Otoritas alamiah adalah ranah atau medan berlakunya hukum alam. Anda tidak bisa mengabaikan hukum alam, dan Anda tidak punya pilihan kecuali bertindak berdasarkan hukum itu. Semua tindakan memiliki akibat. Suka atau tidak, ketika kita mengangkat satu ujung tongkat, kita juga mengangkat ujung yang lain. Bila Anda terjun dari bangunan bertingkat sepuluh, Anda tidak bisa mengubah keputusan Anda saat mencapai tingkat kelima. Gravitasilah yang mengontrolnya. Itulah ketentuan alam. Alam juga telah menentukan bahwa kita punya kebebasan dan kemampuan untuk memilih, dan oleh karena itu, manusia memiliki otoritas alamiah atau kewenangan untuk menguasai ciptaan yang lain. Spesies yang langka dan terancam bahaya hanya bisa bertahan hidup karena persetujuan dan kepedulian kita. Mereka tidak memiliki kebebasan dan kemampuan untuk memilih. Mereka tidak punya kesadaran diri. Mereka tidak bisa menemukan kembali {reinvent) diri mereka. Mereka berada di bawah kuasa manusia. Karena memiliki kesadaran diri, manusia memiliki kebebasan dan kemampuan untuk memilih dan menemukan dirinya sendiri. Ini adalah otoritas alamiah.
Apa itu otoritas moral? Otoritas moral adalah pemanfaatan kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih, berdasarkan suatu prinsip. Dengan kata lain, bila kita mengikuti prinsip-prinsip dalam hubungan kita dengan sesama kita, kita seakan sedang memasuki wilayah perizinan alam. Hukum alam (seperti gravitasi) dan prinsip-prinsip (seperti rasa hormat, kejujuran, kebaikan hati, integritas, pelayanan dan keadilan) mengendalikan akibat dari pilihan-pilihan kita. Sebagaimana Anda mendapatkan udara dan air yang tercemar kalau Anda terus-menerus memperkosa lingkungan hidup, begitu pula kepercayaan (lem dari berbagai hubungan) akan hancur bila Anda terus-menerus bersikap tidak baik dan tidak jujur kepada orang lain. Dengan pemanfaatan kebebasan dan kemampuan untuk memilih secara bijaksana, dan didasari dengan prinsip-prinsip yang baik, orang yang rendah hati akan memperoleh otoritas moral terhadap orang-orang, budaya, organisasi, maupun seluruh masyarakatnya.
Nilai adalah norma sosial, yang bersifat personal, emosional, subjektif, dan dapat diperdebatkan. Kita semua punya nilai-nilai. Bahkan kriminal pun punya nilai-nilai. Pertanyaan yang harus Anda ajukan terhadap diri sendiri adalah, apakab nilai-nilai Anda didasarkan atas prinsip? Bila Anda runut sampai ujungnya, Anda akan menemukan bahwa prinsip-prinsip itu adalah hukum alam, yang bersifat impersonal, faktual, objektif dan jelas dari sananya. Berbagai akibat atau konsekuensi ditentukan oleh prinsip; perilaku ditentukan oleh nilai; karena itu hargailah prinsip-prinsip itu!
Orang yang terobsesi dengan ketenaran, adalah contoh dari mereka yang nilai-nilainya mungkin tidak mengakar kuat pada prinsip. Popularitas membentuk pusat moral mereka. Dengan kata lain, keinginan untuk tenar dan tetap tenar menghalalkan segala cara. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya mereka itu, dan tidak tahu ke mana sebenarnya arah "utara" yang benar. Mereka tidak tahu prinsip mana yang harus diikuti, karena kehidupan mereka didasarkan pada nilai-nilai sosial. Mereka tercabik karena tegangan antara kesadarannya akan tuntutan sosial dan kesadaran diri mereka di satu pihak, dan hukum alam dan prinsip di pihak lain. Bila sedang berada dalam pesawat terbang, keadaan seperti itu disebut vertigo. Dalam keadaan itu Anda kehilangan arah atau acuan ke darat (yang dalam hal ini berarti prinsip) sehingga Anda jadi benar-benar bingung dan tersesat. Banyak orang menjalani hidup mereka dengan semacam vertigo, atau kebingungan moral. Kita semua melihat orang-orang seperti itu. Anda menyaksikan mereka dalam kehidupan Anda dan dalam budaya populer. Mereka tidak mau bersusah-payah untuk benar-benar memusatkan dan mendasarkan nilai-nilai mereka pada prinsip-prinsip yang abadi.
Karena itu, tugas pokok kita adalah menentukan di mana "utara yang sesungguhnya" dan kemudian mengarahkan segalanya ke situ. Kalau tidak, Anda akan hidup dengan berbagai konsekuensi negatif yang pasti akan muncul. Sekali lagi, konsekuensi negatif itu tak terelakkan karena walau nilai mengendalikan tingkah laku, prinsiplah yang mengendalikan konsekuensi dari tingkah laku itu. Otoritas moral menuntut pengorbanan atas kepentingan egoistik berjangka pendek, dan keberanian untuk meletakkan nilai-nilai sosial di bawah prinsip-prinsip. Dan nurani kita adalah gudang dari prinsip-prinsip tersebut.
Alam mengajarkan kepada kita hukum pertanian yang berlaku di mana-mana, dan saya akan menyebutnya sebagai Hukum Panenan. Semua yang berjangka panjang dihasilkan dengan mengikuti urutan waktunya, mengikuti prinsip-prinsip tertentu, dan tumbuh dari dalam ke luar. Hal yang sama berlaku bagi kodrat manusia. Ada Hukum Panenan yang mengendalikan karakter dan keagungan manusia beserta seluruh hubungan yang memiliki ciri manusiawi. Dan hal ini amat bertentangan dengan kecenderungan yang berlaku dalam budaya kita saat ini, yaitu kecenderungan untuk mencari segala sesuatu yang serba mudah dan instan, kecenderungan untuk merasa menjadi korban, dan menyalahkan pihak lain.
Jumat, 25 Maret 2011
22.32 by UnknownNo comments
Tagged: the 8 habith
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!