Minggu, 27 Februari 2011

Jauh di dalam setiap diri kita ada kerinduan mendalam untuk menjalani kehidupan yang hebat, yang agung, dan memberi sumbangan nyata—untuk sungguh-sungguh merasa penting, untuk membuat perbedaan yang benar-benar nyata. Mungkin saja kita meragukan diri kita sendiri dan kemampuan kita untuk melakukan hal itu, tetapi saya ingin Anda mengetahui keyakinan saya yang mendalam bahwa Anda dapat menjalani hidup seperti itu. Anda memiliki potensi di dalam diri Anda. Anda semua punya. Ini adalah hak yang kita miliki sejak lahir, anugerah yang diberikan kepada manusia.
Saya pernah mengunjungi seorang komandan di suatu basis militer yang benar-benar membara dengan komitmennya untuk meng-usahakan perubahan budaya yang cukup berarti di dalam organisasinya. Dia telah berdinas selama lebih dari tiga puluh tahun, menjadi kolonel penuh, dan berhak pensiun pada tahun itu juga. Setelah dia mengajar dan melatih organisasinya selama beberapa bulan, saya bertanya kepadanya kenapa dia merencanakan untuk tinggal di sana dan mengambil prakarsa besar seperti itu—suatu prakarsa yang akan menuntut dirinya untuk berenang melawan arus, menerjang keengganan atau bahkan penolakan dari tradisi yang begitu kuat, kelesuan, sikap acuh tak acuh, dan tingkat kepercayaan yang begitu rendah. Bahkan saya katakan kepadanya, 'Anda kan bisa santai; menjalani masa pensiun dengan gembira; berbagai jamuan akan diadakan untuk menghargai Anda. Para kolega dan orang-orang yang Anda cintai akan merayakannya bersama Anda."
Dia menjadi amat tenang, serius, diam agak lama, lalu me-mutuskan untuk membagikan pengalamannya yang amat pribadi, bahkan bisa dibilang keramat. Dia katakan bahwa belum lama berselang ayahnya meninggal. Ketika sekarat di tempat tidurnya, dia memanggil istri dan anaknya (sang kolonel) mendekat kepadanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia hampir tak bisa berkata-kata. Istrinya menangis selama kunjungan itu. Putranya mendekati sang ayah, dan sang ayah berbisik di telinganya, "Anakku, jangan lakukan apa yang pernah kulakukan. Perlakuanku terhadap dirimu dan ibumu tidak benar, dan aku tak pernah memberi sumbangan yang benar-benar berarti. Anakku, berjanjilah, bahwa kamu tak akan menjalani hidup seperti itu!"
Itulah kata-kata terakhir yang didengar oleh sang kolonel dari ayahnya, yang tak lama kemudian meninggal dunia. Dia menganggap pesan itu sebagai hadiah dan warisan terbesar yang bisa diberikan oleh ayahnya. Sejak itulah dia bertekat untuk membuat perbedaan— untuk hidup sedemikan rupa sehingga benar-benar bisa memberi sumbangan nyata yang sungguh-sungguh bermakna, dalam setiap bidang kehidupannya.

BELAKANGAN SANG KOLONEL secara pribadi menceritakan kepada saya bahwa sebenarnya dia telah merencanakan untuk pensiun dan hidup dengan santai. Bahkan dia berharap bahwa penggantinya tidak akan berbuat sebaik yang telah dia lakukan, dan nampaknya jelas bagi semua orang bahwa hal itulah yang bakal terjadi. Tetapi begitu dia mendapatkan semacam "pencerahan" dengan ayahnya, dia memutuskan untuk tidak hanya menjadi katalisator perubahan dalam membangun prinsip-prinsip kepemimpinan yang akan bertahan lama dalam budaya kesatuannya, tetapi dia juga memutuskan untuk berbuat sesuatu agar penggantinya justru akan lebih berhasil daripada dia sendiri. Dengan berupaya melembagakan prinsip-prinsip kepemimpinan itu ke dalam struktur, sistem, dan proses-proses di dalam organisasinya, dia meningkatkan kemung-kinan terjadinya pewarisan kepemimpinan dari satu generasi pemim-pin ke generasi berikut.
Ia katakan lebih lanjut, bahwa sebelum sampai pada pengalaman-nya dengan ayahnya itu, ia secara amat sengaja memilih jalan yang lebih mudah, dan pada dasarnya hanya bertindak sebagai penjaga tradisi masa lampau. Pendek kata dia memilih kehidupan mediokritas. Tetapi, setelah pengalamannya dengan ayahnya itu, dia memutuskan  untuk menjalani hidup yang penuh keagungan, kehidupan yang ditandai dengan sumbangan nyata dan penuh makna—kehidupan yang benar-benar membuat perbedaan.
Semua orang di antara kita dapat dengan sadar memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang serba tanggung, setengah-setengah, memble dan dangkal, dan menjalani hidup yang penuh keagungan, di rumah, di tempat kerja dan di lingkungan masyarakat. Tak peduli seperti apa pun lingkungan dan keadaan sekitar kita, keputusan seperti itu dapat dibuat oleh setiap orang di antara kita— apakah keagungan itu nampak nyata dalam memilih untuk memiliki semangat yang luar biasa dalam menghadapi penyakit yang tak tersembuhkan, atau dalam membuat perbedaan dalam kehidupan seorang bocah dengan memberikan kepada bocah itu suatu perasaan bahwa dirinya berharga dan bahwa dia memiliki potensi yang luar biasa, dengan menjadi katalisator perubahan dalam suatu organisasi, atau dengan menjadi seseorang yang memulai sesuatu yang baru, yang membawa kebaikan bagi masyarakat luas. Kita semua memiliki kekuatan untuk memutuskan untuk menjalani hidup yang penuh keagungan, sebuah kehidupan yang luar biasa, atau bahkan lebih sederhana, tidak hanya untuk memiliki hari yang baik, tetapi hari yang luar biasa. Tak peduli sudah seberapa jauh kita menapaki kehidupan yang ditandai dengan mediokritas, kita selalu dapat memilih untuk mengubah jalur. SELALU. Tak ada kata terlambat. Kita dapat menemukan suara kita.

BEGITU ANDA MEMILIH untuk mengikuti "jalan yang tidak banyak dirambah" itu, jalur untuk menemukan suara Anda adalah:
1. Temukan Suara Anda dengan memahami kodrat Anda yang sebenarnya—sesuatu yang saya sebut tiga anugerah luar biasa yang kita miliki sejak lahir  dan dengan mengembangkan serta dengan integritas memanfaatkan kecerdasan yang terkait dengan keempat bagian dari kodrat Anda.
2. Nyatakan Suara Anda dengan memelihara perwujudan tertinggi dari kecerdasan manusia ini: visi, disiplin, gairah hidup, dan nurani

Tak ada sesuatu yang begitu kuat sebagaimana sebuah gagasan yang telah tiba saatnya.
VICTOR HUGO

HENRY DAVID THOREAU pernah menulis, "Daripada seribu kali memangkas ranting dan cabang pohon kejahatan, akan lebih efektif bila Anda sekali saja memenggal akarnya."1 Buku ini dimaksudkan untuk memenggal akar masalah besar yang kita hadapi.
Kita telah mulai dengan deritanya; kita telah meneliti masalah yang mendasarinya—yaitu masalah yang memiliki akar pribadi, dan yang melibatkan sebuah paradigma dan seperangkat tradisi yang sudah berurat berakar di tempat kerja. Kini, marilah kita menyiapkan konteks bagi pemecahan masalahnya, dan memberi pandangan umum mengenai bagaimana pemecahan itu akan semakin terjabarkan dalam halaman-halaman selanjutnya.
SAYA TELAH BEKERJA DENGAN BERBAGAI ORGANISASI
di seluruh dunia selama lebih dari empat puluh tahun dan telah mengkaji berbagai temuan orang-orang besar yang telah mempelajari berbagai organisasi. Kebanyakan dari perubahan budaya yang besar —yaitu perubahan-perubahan yang telah membentuk organisasi-organisasi hebat yang bisa mendukung pertumbuhan, kemakmuran, dan sumbangan jangka panjang bagi dunia ini—mulai dengan pilihan  yang diambil oleh satu orang. Kadangkala satu orang itu adalah pemimpin formalnya—CEO atau ketuanya. Sangat sering hal itu mulai dengan orang lain—seorang profesional, seorang manajer, atau asisten entah siapa. Terlepas dari posisi mereka, orang-orang itu pertama-tama mengubah diri mereka sendiri dari dalam ke luar. Karakter, kompetensi, inisiatif, dan energi positif mereka —pendek kata, otoritas moral mereka—mengilhami dan mengangkat orang-orang di sekitar mereka. Mereka memiliki gambaran yang jelas mengenai identitas diri yang mengakar pada kesejatian diri mereka, menemukan kekuatan dan bakat mereka, dan memanfaatkannya untuk melayani kebutuhan, dan memberi hasil yang bagus. Orang-orang mengetahui hal itu. Mereka lalu diberi tanggung jawab yang semakin besar. Mereka memenuhi tanggung jawab itu dan sekali lagi membuahkan hasil. Akibatnya, semakin banyak orang yang mengetahui hal itu dan memberi pujian. Orang-orang puncak ingin mempelajari gagasan mereka—bagaimana mereka dapat me-nyelesaikan dan mencapai begitu banyak hal. Budaya di tempat kerja mereka lalu terfokus ke arah diri dan visi mereka.
Orang seperti itu tidak tersedot oleh segala kekuatan negatif, yang melemahkan semangat dan merendahkan martabat orang, yang ada di dalam organisasi mereka. Menariknya, organisasi di mana mereka itu berada sebenarnya juga tidak lebih baik daripada kebanyakan organisasi lain. Sampai tingkat tertentu, organisasi mereka itu semuanya juga kacau balau. Tetapi, mereka mengerti bahwa mereka tidak bisa menunggu sampai bos atau organisasi mereka berubah dulu. Mereka menjadi semacam pulau puncak prestasi di tengah lautan situasi yang serba memble. Dan hal itu menular.
Dari mana seseorang mendapat kekuatan begitu besar untuk berenang melawan arus, dan berdiri kokoh di tengah derasnya provokasi budaya yang bersifat negatif, sehingga dia bisa menga-lahkan kepentingan dirinya yang sempit, mengembangkan dan mempertahankan visi dan ketetapan hati seperti itu?
Mereka mengkaji segala anugerah dan kodrat alamiah mereka. Mereka memanfaatkannya untuk mengembangkan sebuah visi  mengenai sesuatu yang hebat yang hendak mereka capai. Dengan kebijaksanaan mereka, mereka mengambil inisiatif dan me-ngembangkan pemahaman mengenai berbagai kebutuhan dan kesempatan di sekitar mereka. Mereka melayani kebutuhan-kebutuhan yang cocok dengan bakat unik mereka, sehingga mereka bisa benar-benar termotivasi dan bisa memberi sumbangan nyata. Dengan kata lain, mereka menemukan dan memanfaatkan suara mereka. Mereka melayani dan mengilhami orang lain. Mereka menerapkan PRINSIP yang menentukan pertumbuhan dan kesejahteraan dalam diri manusia DAN dalam organisasi—yaitu prinsip-prinsip yang bisa menarik segala hal yang terbaik dari seorang "pribadi utuh", dari tubuhnya, dari pikirannya, dari hatinya dan dari jiwanya. Sama pentingnya, mereka juga memilih untuk mempengaruhi dan mengilhami orang lain untuk menemukan suara mereka, melalui prinsip-prinsip itu pula.
Solusi dua bagian ini—yaitu Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka—adalah peta bagi setiap individu di SETIAP TINGKAT dalam organisasi untuk memaksimalkan pemenuhan diri dan pengaruh mereka, dan untuk menjadi kontributor yang tak tergantikan,* maupun mengilhami tim dan organisasi mereka yang lebih luas untuk melakukan hal yang sama. Sesuai dengan itulah, buku ini disusun dalam dua bagian utama.
1. Menemukan Suara Anda
2. Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka.
Berikut adalah pengantar singkat untuk kedua bagian tersebut.

TEMUKAN SUARA ANDA
Di hutan, terhampar di hadapanku dua cabang jalan.
Aku mengamhil jalan yang jarang dilalui orang.
Dan itulah yang membuat segala perbedaan.2
ROBERT FROST

Gambar 3.1 merupakan ilustrasi dua jalan kehidupan yang amat berbeda dan merupakan sketsa atau peta sederhana dari Kebiasaan ke-8: Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka. Diagram dua jalan ini akan muncul di awal bab-bab berikut, sampai bab 14. Setiap versi haru dari diagram (yang semakin lama akan semakin lengkap) akan menggarishawahi fokus dari hah yang hersangkutan. Dengan cara ini Anda akan mengetahui di mana Anda telah berada, di mana kini Anda berada, dan ke mana Anda mengarah.

SETIAP ORANG MEMILIH SATU dari dua cabang jalan dalam hidupnya—tua atau muda, kaya atau miskin, pria atau wanita sama saja. Satu cabang adalah jalan yang lapang, dan banyak dilalui orang, yaitu jalan ke arah mediokritas, suatu keadaan serba tanggung, setengah-setengah, atau malah memble. Jalan satunya lagi menuju ke arah keagungan, kebesaran, atau kehebatan dan pemenuhan makna. Wilayah cakupan dari kemungkinan yang ada dalam setiap tujuan di ujung masing-masing jalan itu sama luasnya dengan perbedaan anugerah atau bakat alamiah dan kepribadian dalam keluarga manusia, tetapi perbedaan antara kedua tujuan tersebut seperti malam dan siang.
Jalan ke arah mediokritas mengekang potensi manusiawi. Jalan ke arah keagungan membebaskan dan mewujudkan potensi manusiawi. Jalan ke mediokritas adalah pendekatan kehidupan yang menggunakan prinsip-prinsip jalan pintas, serba cepat; sedangkan

image

gambar : 3.1

jalan ke keagungan adalah suatu proses pertumbuhan bertahap dari dalam ke luar. Para penjelajah jalan di bawah yang mengarah ke mediokritas akan hidup dengan menuruti keakuannya yang dibentuk oleh tradisi budaya, menuruti kecenderungan atau selera rendahnya, hidup dengan mentalitas kelangkaan, membanding-bandingkan, hidup dengan semangat persaingan dan merasa diri sebagai korban (victimism). Sementara itu, para penjelajah jalan di atas, yang mengarah ke keagungan, bangkit tegak di atas berbagai pengaruh budaya yang negatif, dan memilih untuk menjadi kekuatan kreatif bagi kehidupan. Satu kata bisa menyatakan jalan ke keagungan itu, yaitu SUARA (PANGGILAN JIWA). Mereka yang berada di jalan ini menemukan suara mereka, dan mengilhami orang lain untuk me-nemukan suara mereka. Orang lain tidak pernah melakukannya.

sumber : the8thhabith halaman 40 (indonesian version)

Jadi, apa kaitan langsung antara paradigma kebendaan (atau pribadi tak utuh) yang mendominasi tempat kerja zaman ini dan ketidak-mampuan para manajer dan organisasi untuk mengilhami orang-orangnya untuk menyumbangkan bakat dan sumbangan terbesar mereka? Jawabannya sederhana. Orang-orang membuat pilihan. Secara sadar atau tidak, orang-orang memutuskan seberapa besar bagian dari diri mereka yang akan mereka abdikan dalam pekerjaan, dan itu tergantung pada bagaimana mereka diperlakukan, serta kesempatan mereka untuk memanfaatkan keempat dimensi kehidupan mereka. Pilihan itu ada banyak dan berjenjang mulai dari sikap memberontak atau keluar, sampai bersemangat, bergairah, dan kreatif.

image

Kini, coba pikirkan sebentar, mana di antara keenam pilihan yang ada di Gambar 2.4—memberontak atau keluar, menurut tapi dengan banyak gerutu dan kecurangan, kesediaan memenuhi aturan, bekerjasama dengan sukarela, berkomitmen sepenuh hati, bersemangat dan bergairah secara kreatif—yang akan Anda ambil, bila Anda berada dalam lima skenario berikut:


Pertama, Anda tidak diperlakukan dengan adil. Dengan kata lain, ada banyak permainan politik yang berlangsung dalam organisasi Anda; ada nepotisme; sistem penggajian tidak adil dan tidak jujur; gaji Anda juga tidak dengan tepat mencerminkan besarnya sumbangan Anda. Apa kira-kira pilihan Anda?

Kedua, mari kita andaikan bahwa Anda diperlakukan dengan adil, dalam arti Anda digaji dengan adil, tetapi Anda tidak diperlakukan dengan baik. Anda tidak dihormati; perlakuan terhadap diri Anda berubah-ubah, semena-mena, banyak tak terduga, mungkin lebih banyak ditentukan oleh suasana hati bos Anda. Apa kira-kira pilihan Anda?

Ketiga, mari kita andaikan bahwa Anda dibayar dengan adil dan diperlakukan dengan baik, tetapi pendapat Anda tidak digubris. Dengan kata lain, tubuh dan hati Anda dihargai, tetapi pikiran Anda tidak. Apa pilihan Anda?

Keempat, katakanlah Anda dibayar dengan adil (tubuh), diperlakukan dengan baik (hati), dilibatkan secara kreatif (pikiran), tapi Anda diminta untuk menggali lobang dan menimbunnya kembali, atau disuruh membuat laporan yang tak akan pernah dilihat dan dimanfaatkan orang. Dengan kata lain, pekerjaannya sama sekali tidak berarti (jiwa). Apa kira-kira pilihan Anda?

Kelima, katakanlah sekarang Anda dibayar dengan adil, diperlakukan dengan baik, dan dilibatkan secara kreatif dalam suatu pekerjaan yang berarti, tapi ada banyak kebohongan dan kecurangan terjadi terhadap pelanggan dan pemasok, termasuk karyawan lain (jiwa). Apa kira-kira pilihan Anda?
Kini kita telah menjelajahi keempat bagian paradigma pribadi utuh—tubuh, pikiran, hati dan akhirnya jiwa (khusus berkenaan dengan jiwa itu sendiri dibagi dalam dua bagian, yaitu ketakber-maknaan kerja dan cara pelaksanaannya yang tidak didasarkan atas prinsip yang benar). Hal penting yang ingin saya sampaikan adalah, apabila Anda mengabaikan satu saja dari keempat bagian kodrat manusia itu, Anda menjadikan manusia sebagai sebuah benda atau barang, lalu apa yang Anda lakukan terhadap benda atau barang? Anda harus mengendalikannya, mengelolanya, memotivasinya dengan hadiah dan hukuman.
Saya telah menanyakan kelima pertanyaan itu di seluruh dunia, dalam situasi yang berbeda, dan hampir dapat dipastikan bahwa jawabannya jatuh pada tiga kategori terbawah: orang akan memberontak atau keluar, menurut tapi terus gerutu dan curang (yang berarti bahwa mereka akan melakukan apa yang harus mereka lakukan, tapi mereka juga berharap bahwa itu tak akan jalan), atau paling-paling rela memenuhi kewajibannya. Tapi, dalam Zaman Pekerja Pengetahuan/Informasi kita ini, hanya mereka yang dihormati

sebagai pribadi utuh dalam pekerjaannya—yaitu mereka yang dibayar dengan adil, diperlakukan dengan baik, dimanfaatkan secara kreatif, dan diberi kesempatan untuk melayani kebutuhan mengambil orang dengan cara-cara yang berprinsiplah (lihat Gambar 2.5)— yang satu di antara tiga pilihan teratas, yaitu mau bekerjasama dengan sukarela, memberikan komitmen sepenuh hati, atau mencurahkan semangat dan kegairahan yang kreatif (lihat lagi Gambar 2.4).

identitas adalah takdir

Nah, dapatkah Anda melihat bahwa masalah inti di tempat kerja dan pemecahannya terletak pada paradigma kita mengenai kodrat

image

manusia? Dapatkah Anda melihat betapa banyak pemecahan masalah di rumah dan di masyarakat kita terletak pada paradigma yang sama itu? Paradigma kebendaan dari Zaman Industri dan semua praktik yang muncul darinya merupakan ekuivalen zaman kita ini untuk penyedotan darah guna penyembuhan sebagaimana di-praktikkan dalam Abad Pertengahan. Penjabaran menyeluruh dari empat masalah kronis dalam organisasi yang disebabkan oleh peng-abaian keempat bagian dari kodrat manusia, dan pemecahannya yang melibatkan empat peran kepemimpinan akan segera dibahas, mulai dengan Bab 6. Tapi kita akan lebih dulu beranjak ke tanggapan dan solusi individual terhadap derita dan masalah yang telah kita bicarakan.

sumber : the8thhabith halaman 35 (indonesian version)

Pada intinya, ada satu alasan sederhana yang umum sekali, kenapa ada begitu banyak orang yang merasa tidak puas dalam pekerjaan mereka, dan kenapa banyak sekali organisasi tidak berhasil menarik dan memanfaatkan bakat, kecerdikan, dan kreativitas orang-orangnya dan tidak pernah menjadi organisasi yang sungguh-sungguh hebat dan bertahan lama. Situasi itu bermula dari paradigma yang tidak komplet mengenai siapa sesungguhnya kita ini. Dengan kata lain, paham dasar kita mengenai kodrat manusia.
Adalah kenyataan yang mendasar bahwa manusia bukanlah benda atau barang yang perlu dimotivasi dan dikendalikan. Manusia memiliki empat dimensi—tubuh, pikiran, hati dan jiwa (lihat Gam-bar 2.2).

image

Bila Anda mempelajari semua filsafat dan agama, baik Barat maupun Timur, sejak awal sejarah yang tercatat, pada dasarnya Anda akan menemukan keempat dimensi tersebut: fisik/ekonomis, mental, sosial/emosional, dan spiritual. Seringkali digunakan istilah yang berbeda, tetapi semuanya mencerminkan empat dimensi kehidupan yang universal. Ini juga mencerminkan empat kebutuhan motivasi dasar dari semua orang, yaitu: untuk hidup (bertahan hidup), menyayangi (hubungan pertalian), belajar (tumbuh dan berkembang) dan meninggalkan nama baik (makna dan sumbangan) [lihat Gam-bar 2.3].

image

John Gardner berkata demikian, "Kebanyakan organisasi yang sakit-sakitan telah mengembangkan kebutaan fungsional terhadap berbagai kekurangan mereka sendiri. Mereka tidak menderita karena tidak dapat memecahkan masalah mereka, melainkan karena tidak bisa melihat masalah mereka." Einstein mengatakannya demikian, "Masalah penting yang kita hadapi tidak dapat dipecahkan pada aras pemikiran yang sama yang kita pakai ketika menciptakan masalah tersebut."
Pernyataan-pernyataan di atas menggarisbawahi pembelajaran yang paling mendalam dalam hidup saya: Apabila Anda ingin membuat perubahan dan perbaikan kecil-kecilan, sedikit demi sedikit, lakukan sesuatu pada tataran praktik, tingkah laku, dan sikap. Tetapi, bila Anda ingin membuat perbaikan besar yang amat berarti, lakukan sesuatu pada paradigma. Kata paradigma berasal dari kata Yunani, paradeigma, yang aslinya adalah istilah ilmiah, tetapi secara umum kini digunakan untuk menyebut persepsi, asumsi, teori, kerangka acuan, atau "kacamata" yang Anda gunakan untuk memandang dunia. Paradigma itu seperti peta kawasan atau kota. Bila tidak tepat, tak akan ada bedanya betapa kerasnya Anda bekerja untuk menemukan tujuan Anda atau betapa positifnya cara pikir Anda; Anda tetap saja akan tersesat. Bila petanya tepat, ketelitian dan sikap baru akan berguna.
Misalnya, Anda tahu cara penyembuhan di Abad Pertengahan? Caranya adalah mengeluarkan darah dari tubuh penderita. Apa paradigmanya? Penyebab penyakit ada di dalam darah; karena itu keluarkan, dengan cara menyedot darah. Coba bayangkan, bila Anda tidak mempertanyakan paradigma itu, apa yang akan Anda lakukan? Lakukan lebih banyak; lebih cepat; tanpa rasa sakit. Anda mungkin akan menerapkan Manajemen Qualitas Total (Total Quality Manage-ment) atau Six Sigma dalam pengeluaran darah itu. Anda mungkin akan melakukan kontrol kualitas secara statistik, atau analisis varian. Anda mungkin akan melakukan studi kelayakan strategis untuk mendirikan jasa penyedotan darah, dan beroperasi dengan suatu rencana pemasaran yang hebat, sehingga Anda dapat beriklan demikian: "Kami memiliki unit penyedotan darah kelas dunia yang paling baik mutunya di seluruh dunia!" Atau Anda akan membawa pasien ke puncak gunung, dan menyuruh mereka terjun bebas dari tebing gunung, bergandengan tangan, sehingga ketika mereka kembali ke unit penyedotan darah di rumah sakit Anda mereka akan bekerja dengan cinta dan kepercayaan yang semakin besar. Atau mungkin Anda akan menyuruh para anggota unit penyedotan darah Anda duduk di sekitar bak mandi air hangat, dan mengkaji kejiwaan para pasien yang mereka layani, bagaimana perasaan mereka satu sama lain, sehingga mereka akan mengembangkan otentisitas dalam komunikasi mereka. Anda bahkan juga bisa mengajarkan berpikir positif kepada para pasien Anda, maupun kepada para karyawan Anda, sehingga energi positifnya menjadi optimal ketika sedang dilakukan penyedotan darah.
Dapatkah Anda membayangkan apa yang terjadi ketika teori mengenai kuman penyakit ditemukan—ketika Semmelweis dari Hungaria, Pasteur dari Prancis, dan para ilmuwan empirik lain menemukan bahwa penyebab penyakit adalah kuman? Itu langsung menjelaskan kenapa para wanita ingin dibantu oleh para bidan (dukun bayi) ketika melahirkan, karena para bidan itu lebih bersih. Mereka mandi dan cuci tangan. Itu menjelaskan kenapa lebih banyak pria di medan perang lebih banyak mati karena infeksi daripada karena terkena peluru. Penyakit merebak di belakang garis depan

melalui kuman. Teori mengenai kuman itu membuka medan riset yang sama sekali baru. Teori itulah yang membimbing praktik penyelenggaraan kesehatan sampai hari ini.
Itulah kekuatan paradigma yang tepat. Dia menjelaskan, lalu mengarahkan. Tetapi, masalahnya adalah bahwa paradigma, seperti tradisi, tak gampang mati, tak mudah berubah. Paradigma yang pincang terus berlangsung berabad-abad setelah yang lebih baik ditemukan. Contohnya, kendati buku-buku sejarah mengisahkan tentang George Washington yang sekarat karena infeksi tenggorokan, amat mungkin bahwa dia meninggal karena terlalu banyak darah yang disedot keluar dari tubuhnya. Infeksi tenggorokan itu adalah gejala dari suatu penyakit yang lain. Tetapi, karena paradigmanya adalah bahwa penyakitnya ada dalam darah, mereka menyedot darahnya beberapa pint (1 pint = 0,568 liter) dalam jangka waktu dua puluh empat jam, padahal secara medis kini kita dianjurkan untuk tidak mendonorkan darah lebih dari satu pint per dua bulan; itu pun kalau kondisi kesehatan kita prima.
Zaman Pekerja Pengetahuan berdasarkan paradigma baru, yang sama sekali berbeda dari paradigma kebendaan dari Zaman Industri. Marilah kita menyebutnya Paradigma Pribadi Utuh.

sumber : the8thhabith halaman 31 (Indonesian Version)

Apa yang terjadi bila Anda mengelola manusia seperti mengelola barang? Mereka tak akan percaya lagi bahwa kepemimpinan dapat menjadi sebuah pilihan. Kebanyakan orang memandang kepemimpinan sebagai suatu posisi dan karena itu tidak memandang diri mereka sebagai pemimpin. Membuat kepemimpinan pribadi sebagai sebuah pilihan adalah sama seperti memiliki kebebasan untuk bermain piano. Itu adalah kebebasan yang harus didapatkan, diraih, dan baru kemudian kepemimpinan itu menjadi sebuah pilihan.
Sebelum hal itu terjadi, orang-orang berpikir bahwa hanya pihak yang memegang otoritaslah yang berhak memutuskan apa yang harus dikerjakan. Dengan begitu, mungkin secara tak sadar mereka justru mengizinkan diri untuk dikontrol seperti barang. Kalaupun mereka melihat adanya kebutuhan, mereka tidak berinisiatif untuk bertindak. Mereka menunggu diberitahu apa yang harus dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan formal, dan kemudian mereka menanggapinya sesuai dengan petunjuk. Konsekuensinya, mereka akan menyalahkan para pemimpin formal kalau ada sesuatu yang tidak beres, dan memuji atau menghargai mereka bila hal-hal berjalan dengan baik. Lalu para pemimpin formal itu akan berterimakasih kepada orang-orang tersebut atas "kerjasama dan dukungan mereka".
Keengganan yang begitu meluas untuk mengambil inisiatif, untuk bertindak secara independen, tanpa disuruh-suruh, hanya mem-perbesar keharusan para pemimpin formal untuk mengarahkan atau mengelola para bawahan mereka. Mereka percaya bahwa itulah yang harus mereka lakukan agar para pengikutnya mau bertindak. Siklus itu dengan cepat akan membesar menjadi ko-dependensi, masing-masing saling tergantung. Kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing pihak saling mendukung dan pada akhirnya juga mem-benarkan perilaku pihak lain. Semakin seorang manajer mengontrol, dia juga semakin menguatkan dan membangkitkan perilaku yang mengharuskan adanya kontrol yang lebih besar lagi; dengan kata lain dia harus mengelola dengan semakin ketat. Budaya kodependen yang berkembang di situ akhirnya dilembagakan sedemikian sampai tak seorang pun bertanggung jawab. Sejalan dengan waktu, baik pemimpin maupun para pengikutnya menguatkan peran mereka masing-masing dalam suatu "perjanjian" yang terjadi secara tak sadar. Mereka saling menggembosi kekuatan mereka, dengan percaya bahwa orang lain harus berubah dulu sebelum lingkungan mereka sendiri dapat menjadi baik. Siklus yang sama juga muncul dalam keluarga, antara orangtua dan anak-anak mereka.

Persekongkolan gelap seperti ini ada di mana-mana. Tak banyak orang yang bahkan cukup berani, untuk mengetahui bahwa itu ada dalam diri mereka. Bila mereka mendengar masalah ini dikemukakan, secara spontan mereka melihat di luar diri mereka. Ketika sedang mengajarkan materi ini kepada peserta dalam jumlah yang besar, setelah sekitar dua jam saya sering berhenti sejenak dan menanyakan hal ini, "Berapa banyak di antara Anda yang menyukai materi ini, tetapi merasa bahwa orang yang sebenarnya memerlukan materi ini justru tidak ada di sini?" Mereka biasanya meledak dalam tawa, tetapi kebanyakan orang mengangkat tangannya.

Mungkin Anda pun berpikir bahwa orang yang sesungguhnya memerlukan buku seperti ini bukan orang yang sedang membaca buku ini. Pikiran itu sendiri menyingkapkan kodependensi. Apabila Anda membaca buku ini dan memikirkan kelemahan-kelemahan orang lain, sebenarnya Anda sedang memperlemah diri Anda sendiri, dan memberi kekuatan yang lebih besar pada kelemahan-kelemahan mereka itu untuk terus menyedot insiatif, tenaga, dan gairah hidup Anda.

Bahkan organisasi-organisasi yang terbaik, yang dengannya saya pernah bekerja selama lebih dari empat puluh tahun belakangan ini, juga dipenuhi dengan masalah. Kesakitan yang muncul dari masalah dan tantangan ini menjadi lebih akut lagi karena perubahan yang terjadi di dunia ini. Tantangan seperti itu pada umumnya dapat dibedakan menjadi tiga: menyangkut organisasi, hubungan, dan pribadi.
Pada tataran organisasi, sebuah falsafah manajemen yang me-nekankan pengendalian menentukan kinerja, komunikasi, kompensasi/imbalan, pelatihan, informasi, dan sistem-sistem inti lainnya, yang pada dasarnya mengekang bakat dan suara kita. Falsafah kendali ini memiliki akarnya di Zaman Industri, dan telah menjadi pola pikir manajemen yang diandalkan oleh orang-orang yang memiliki jabatan, yang terjadi di segala macam industri dan profesi. Sekali lagi, saya menyebutnya "Pola Pikir Kebendaan" dari Zaman Industri.
Pada tataran hubungan pertalian, kebanyakan organisasi juga dipenuhi dengan kodependensi. Secara umum boleh dikatakan tidak ada kepercayaan, dan banyak orang juga kekurangan keahlian maupun perangkat pikir yang tepat untuk berbuat sesuai dengan bakat mereka yang memang berbeda-beda, secara otentik dan kreatif. Kendati sistem organisasi dan praktik manajemen yang bersifat amat mengekang dengan sistem kontrol yang ketat memberi andil besar terbentuknya kodependensi, masalah itu diperparah lagi oleh fakta bahwa banyak orang dididik dan dibesarkan dengan dibanding-bandingkan dengan orang lain di rumah, bersaing dengan orang lain di sekolah, di klub olahraga, dan di tempat kerja. Pengaruh-pengaruh yang amat kuat itu menumbuhkan mentalitas berke-kurangan {scarcity mentality), sehingga banyak orang merasa kesulitan untuk benar-benar bisa merasa bahagia ketika melihat orang lain berhasil.

Pada tataran pribadi, organisasi-organisasi itu penuh dengan orang-orang yang berbakat, cerdas, dan kreatif pada setiap tingkat, yang merasa gerah, tertekan, kurang dihargai, dan tak terinspirasi. Mereka frustrasi, dan menjadi tidak percaya bahwa mereka memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengubah lingkungan mereka.

Harta dan pendorong utama dari kemakmuran ekonomi di Zaman Industri adalah mesin dan modal—yakni, benda. Manusia diperlukan, tetapi dapat diganti. Anda dapat mengontrol dan merotasi atau mengganti-ganti para pekerja manusia dengan hanya sedikit konsekuensi yang ditimbulkan, karena pasokannya melampaui kebutuhannya. Anda hanya perlu mendapatkan orang baru yang mau mengikuti prosedur ketat. Manusia lalu seperti benda—Anda bisa bertindak efisien dengan mereka. Yang Anda perlukan hanya tubuh orang-orang itu, dan bukan pikiran, hati atau jiwa (yang semuanya merupakan penghalang bagi mulusnya proses zaman mesin); dan dengan demikian Anda menurunkan derajat manusia menjadi sekadar benda.

Begitu banyak praktik manajemen modern kita berasal dari Zaman Industri. Itu memberi kita keyakinan bahwa kita harus mengontrol dan mengelola manusia. Itu juga yang membentuk pandangan kita mengenai akuntansi, sedemikian sehingga manusia dianggap biaya, sementara mesin dipandang sebagai aset. Coba pikirkan hal ini. Manusia diletakkan dalam perhitungan rugi-laba sebagai pengeluaran; sedangkan peralatan diletakkan dalam pem-bukuan sebagai investasi.
Di bidang motivasi, hal itu jugalah yang membentuk falsafah "wortel dan cambuk", yaitu sistem pengelolaan manusia yang sekadar menganggapnya sebagai seekor keledai, yang harus dikendalikan dengan hadiah dan hukuman. Manusia dimotivasi dengan meletakkan wortel (hadiah) di hadapannya, dan dipacu dengan cambuk (keta-kutan dan hukuman) di belakang.
Itu pulalah yang menghasilkan perencanaan keuangan secara terpusat—di mana berbagai tren atau kecenderungan diekstrapolasi ke masa depan, lalu hierarki dan birokrasi dibentuk untuk "mewujudkan angka-angka"... suatu proses reaktif yang sudah ketinggalan zaman, yang menghasilkan budaya "asal bos senang" dan "aji mumpung" yang akan bermuara pada sikap "belanjakan saja sampai habis, agar tahun depan anggaran kita tidak dikurangi", dan menutup-nutupi kebobrokan organisasi.
Semua praktik itu, dan masih banyak lagi, berasal dari Zaman Industri yang bekerja dengan para pekerja manual.
Masalahnya adalah, para manajer saat ini masih menerapkan model kontrol Zaman Industri itu terhadap para pekerja pengetahuan. Karena banyak orang yang memegang otoritas tidak menge-tahui apa sesungguhnya nilai dan potensi orang-orangnya, serta tidak memiliki pemahaman yang utuh dan tepat mengenai kodrat manusia, mereka mengelola manusia sebagaimana mereka mengelola barang. Kurangnya pemahaman ini juga menghalangi mereka untuk dapat mendayagunakan motivasi, bakat dan kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh orang-orangnya. Hal itu merendahkan dan mengasingkan mereka, mendepersonalisasi kerja, serta menciptakan budaya yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah, seragam, dan serba curiga, penuh selidik. Apa yang terjadi bila Anda memperlakukan anak remaja seperti benda? Perlakuan itu pun merendahkan, mengasing-kan, mendepersonalisasikan hubungan pertalian keluarga yang amat berharga, serta menciptakan keluarga yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang rendah, perlawanan, dan pembangkangan.

sumber : the8thhabith halaman 26

Hidup yang monoton itu sungguh membosankan. kita perlu jeda dengan melakukan sesuatu yang sama sekali berbedadari biasanya. Sesuatu yang lebih menantang, yang ekstra.

Secara alamiah otak memang didesain untuk siap mepelajari hal-hal baru. Jika dipakai untuk menulang-ulan program yang sama sepanjang waktu, otak kita akan kehilangan sifat kretaif dan adaptif.

Kadang untuk memulai sesuatu yang baru, kita dihadapkan pada asa engan dan takut. Tulisan ini mudah-mudahan bisa memberi inspirasi berani agar “idup terasa lebih hidup”.

Jika kita sudah lama berkutat dengan pekerjaan rutin, sudah waktunya kita mengambil cuti untuk berlibur. Jika kita biasanya berwisata jalan-jalan ala agen travel, mungkin kita perlu mencoba jenis wisata baru yang lebih menantang. Safari ala backpacker, misalnya. Mengapa tidak ?

Jika kita sudah terlalu lama bekerja sebagai pegawai hingga sampai pada titik bosan dan tidak bisa menikmatinya, kita mungkin perlu jeda. Jeda bisa berupa cuti panjang untuk mencoba hal baru. Bisa juga berupa “cuti selamanya” alias pensiun dini lalu pindah haluan mencoba hal lain. Berwirausaha misalnya. Mengapa tidak ?

Hidup menyediakan banyak pilihan. Semua pilihan memiliki konsekuensi enak dan tidak enak. Justru kalau terlalu lama berada di zona nyaman, hidup kita akan monoton. Kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan hidup yang penuh cerita, penuh warna.

Seburuk apapun kondisi kta, kita selalu punya pilihan. Bahkan ketika berhadapan dengan resiko mati pun kita masih selalu bisa memilih jalan hidup.

M. Sholekhuddin.

Kekuatan pikiran bawah sadar sering juga disebut sebagai hipnosis, yang sering tayang di tv itu ya ?? di program Uya Kuya juga Romy Rafael ?? Ya sebenarnya sama saja istilah hipnosis dengan kata hipnotis, cuman beda “t” dengan “s” saja kok hehehehehe.

Banyak orang menganggap bahwa perilaku hipnosis itu adalah hal yang kurang baik, menurut saya itu gak selamanya juga sich tergantung dari pribadi yang melakukannya jika itu di bawah kearah yang lebih baik akan berdampak baik pula beigitupun sebaliknya. Sebagai contoh di dunia kedokteran hipnosis digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk sang pasien, sedangkan di dunia entetain yaaa digunakan sebagai program hiburan dll...

Bagaimana sich sebenatrnya cara kerja hipnosis itu ?? Tidak sulit untuk memahami bagaimana hipnosis itu dilakukan. Otak manusia diciptakan dengan mekanisme yang luar biasa. Otak kiri (yang seri kita gunakan) dikendalikan oleh pikiran sadar, sementara otak kanan (yang masih diabaikan potensinya) dikendalikan oleh pikiran bawah sadar. Menurut hasil penelitian, pikiran sadar diotak kiri menegendalikan sekitar 12% perilaku manusia, sebalilknya pikiran bawah sadar di otak justru mengendalikan 88%. Dengan hipnosis pikiran bawah sadar itu bisa dioptimalkan.

Proses hipnoson sangat berhubungan dengan kativitas otak yang dibagi dalam beberapa tingkatan gelombang otak. Gelombang beta aktif saat otak berada dalam kondisi normal atau kesadaran penuh, gelombang alfa dan teta aktif saat otak berada dalam kondisi relaksasi,meditasi dan hipnosa (hypnosis state). Dalam kondisi inilah pikiran bawah sadar (suubconsious mind) aktif. Yang terakhir adalah gelombang delta yang aktif dalam keadaan tidur normal. Tujuan dari hipnosisi adalam membawa kesadaran seseorang dari kondisi pikiran normal (sadar) kekondisi pikiran bawah sadar. Dalam kaitaanya dengan gelombang otak, hipnosis memindahkan gelombang beta ke alfa. Pada kondisi tertentu, pemidahan gelombang dapat mencapai gelombang teta tetapi tetap terjaga agar tidak tercapai gelombang delta.

Rabu, 16 Februari 2011

“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya”

(Goethe)

Sering kita menganggap bahwa kehidupan kita merupakan pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Kebaikan sering kita lambangkan dengan cinta dan keburukan sering kita lambangkan dengan perselisihan. Cinta akan membuat dan mengikat yang ada menjadi sesuatu yang menyatu sedangkan perselisihan membuat segala sesuatu itu terpisah dari eksistensinya.

Dunia ini bagaikan sebuah kepingan uang logam yang memiliki dua sisi yang saling mengisi dan tidak bisa terpisahkan antara satu sama lain. Begitu juga dengan kehidupan. Kehidupan merupakan kombinasi dari berbagai unsur-unsur yang berbeda antara satu sama lain. Kehidupan bagaikan sebuah lukisan, lukisan yang indah tidak terbentuk hanya dari satu warna melainkan gabungan dari berbagai warna. Bagaimana mungkin kita dapat membentuk sebuah pohon ketika warna yang kita miliki hanyalah warna putih. Bagaimana mungkin kita dapat membuat kue ketika bahan yang kita miliki hanyalah tepung.

Segala sesuatu yang ada di bumi ini, pertama-tama hanyalah merupakan kumpulan mitos-mitos yang sering terkait dengan dewa-dewa. Mitologi ini sering pula dikaitkan dengan kejadian alam. Mitologi merupakan jalan yang ditempuh oleh seseorang untuk menjawab segala pertanyaan mengenai alam, tuhan dan manusia itu sendiri, mitologi terkadang sering dianggap sebagai karangan imajinasi seseorang untuk melukiskan dan menggambarkan sesuatu, tapi apakah jawaban yang diajukan oleh mitologi dapat diterima oleh rasio sehingga mampu terjelaskan secara ilmiah.

Sebenarnya dari manakah dunia ini berasal? Apakah segala sesuatu ini yang ada di dunia ini berasal dari ketiadaan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang pertama-tama dikemukakan oleh para Filosof. Filosof adalah orang yang peka terhadap segala yang ada, bahkan yang mungkin ada. Rasa keingintahuanlah yang membawa mereka berkelana dan mencoba menyingkap tabir kehidupan.

Salah satu sifat yang dimiliki oleh seorang manusia adalah rasa ketidakpuasan. ketidakpuasan ini yang terkadang mengantar manusia untuk selalu melakukan petualangan dan pengembaraan untuk mencapai tingkat kepuasaan. Kita akan menghargai kehidupan ketika kita mengalami kesusahan, kita akan mengetahui bahwa betapa indahnya kebahagiaan ketika kita pernah merasakan yang namanya kepedihan dan kesedihan. Kita akan menghargai apa yang kita miliki dan yang ada disekeliling kita ketika kita pernah merasakan kehilangan orang yang penting dan berharga dalam kehidupan kita.

Kebenaran yang diungkap oleh manusia merupakan kebenaran yang relative, sehingga kita semua adalah pencari kebenaran bukan penemu kebenaran. Karena sejatinya kebenaran yang mutlak hanyalah milik sang pencipta. Jadi janganlah berhenti untuk mencari kebenaran itu, ketika orang berhenti untuk mencari kebenaran dan berproses maka tidak akan ada lagi makna kehidupan yang bisa kita ambil dari kehidupan ini.

sumber ": sakty

Jumat, 11 Februari 2011

“Anda berada ditempat ini sekarang karena keputusan Anda kemarin…

Dan keberadaan Anda esok karena keputusan yang Anda buat hari ini”

Kehidupan manusia adalah sebuah kumpulan-kumpulan sebuah drama. Drama satu jam kita lalui lakukan ditempat kerja. Drama sehari kita lakukan di rumah tangga. Drama seminggu kita lalui di tempat tinggal dan drama setahun kita lalui dalam melakukan segala aktivitas kita. Itulah sebuah roda kehidupan, kehidupan itu adalah sebuah peristiwa maka hadapilah kehidupan ini. Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak bisa telepas dari sebuah proses. Karena pada hakikatnya manusia terlahir untuk berproses . Orang yang sadar akan sebuah proses dan menganggap setiap proses yang ada merupakan sebuah pembelajaran dalam sebuah dinamika kehidupan maka dia akan menemukan makna dari setiap sudut yang ada dalam kehidupannya. Bukankah hasil yang baik ditentukan oleh suatu proses yang baik.

Setiap manusia mempunyai keinginan. Keinginan untuk dihormati, dihargai, bahkan keinginan untuk dapat dikagumi. Terkadang Kita selalu ingin tampak sempurna di depan orang lain bahkan selalu berbuat sesuatu yang berharga untuk orang lain. Tapi pertanyaannya kemudian adalah apakah sampai detik ini kita pernah melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri…apakah kita pernah menyadari betapa besar potensi yang kita miliki. Pernahkah kita berfikir bahwa potensi yang kita miliki terkadang melebihi kemampuan yang kita miliki sebagai seorang manusia. Bahkan hal yang tidak mungkin difikiran kita hari ini bisa menjadi sesuatu hal yang mungkin di hari esok. Salah satu Kesalahan terbesar seorang manusia adalah rasa takut untuk memulai dan rasa takut untuk berbuat salah akhirnya banyak orang yang hampir dekat dengan sebuah kesuksesan tapi sayangnya mereka kemudian menyerah dan tak ada lagi keinginan untuk mencoba.

Setiap orang memiliki keinginan untuk berkuasa dan menjadi penguasa tapi bukan berarti berkompetisi dengan memandang rendah atau mengalahkan orang lain. Hal yang paling sulit adalah mengalahkan keraguan yang ada dalam diri kita, keraguan atas potensi yang kita miliki. Keraguan atas kemampuan dan potensi yang bisa dikembangkan secara optimal. Bahkan yang sering muncul diantara kita adalah rasa ego yang berlebih bahkan menepiskan rasa keinginan untuk berbagi dan mendengarkan pendapat orang lain, bukankah dengan mendengarkan orang lain kita dapat memahami segala sesuatu yang ada dalam fikirannya.

Setiap orang berhak untuk mempunyai impian untuk menjadi lebih baik dibanding hari ini. Karena impian adalah suatu cerminan jiwa walau terkadang impian tidak seindah yang dalam khayalan dan tak sesempurna yang ada dalam fikiran bahkan tak seindah dengan kenyataan., tidak ada seorangpun yang miskin hanya karena persoalan berbagi. Yang benar bukanlah takut untuk berbuat salah tapi berbuat sebanyak mungkin untuk mengurangi kesalahan. Ingatlah bahwa jika anda melakukan sesuatu hari ini maka anda akan mendapatkan apa yang sepantasnya anda dapat hari esok.

Siapa bilang Anda GAGAL? Bukankah Anda sedang BELAJAR?

“kesadaran akan kebenaran akan menuntun kita menjadi lebih bijak dan jernih didalam memandang sebuah persoalan… demikian pula dengan akal, kecerdasan dan ilmu pengetahuan akan mengantarkan seseorang mencapai kualitas jiwa yang murni”

sumber : Sakty

Jika ada yang bertanya “Kenapa dia selalu ada dalam fikiranku?” Jawabku “Karena dia tulus dan selalu ada disaat yang lain menjauh”

Maha suci Allah yang telah menciptakan seorang wanita. Yang telah dilengkapi oleh Tuhan dengan jiwa dan raga yang begitu nyata dan maya. Yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.

Suara kehidupan seseorang terkadang tidak mampu di dengar oleh telinga kehidupan orang lain. Mungkin dengan berbicara barangkali kira bisa mengerti dan memahami antara satu sama lain.

Segala kebahagiaan yang kita alami hari ini, walau harus terbungkus rapi dengan luka dan kesedihan. Tapi perlu kita sadari bahwa luka dan kesedihan tidak akan abadi. Cobalah tersenyum dan buka fikiran untuk menatap secercah harapan dihari esok. Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan…bukankah kita harus mensyukuri segala yang kita miliki hari ini karena boleh jadi apa yang kita miliki ahri ini tidak akan kita miliki hari esok.

Jangan pernah mengucapkan selamt tinggal bila kamu masih mau mencoba…jangan pernah menyerah bila kamu masih sanggup menjalaninya…jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi bila kamu tidak dapat melupakannya..

Seorang lelaki yang bijak adalah mereka yang mampu memuliakan dan menghargai seorang wanita.

“Mudah-mudahan ku tetap seperti kemarin dan lebih baik dibanding hari ini…

Walau terkadang ada rasa takut untuk melangkah dalam mengitari sebuah roda kehidupan”

sumber : Sakty

Jumat, 04 Februari 2011

dgghhd