Kita telah memperbicangkan pemanfaatan secara bijak terhadap ruang antara rangsangan dan tanggapan—dengan kata lain, kebebasan kita untuk memilih. Apa sesungguhnya arti dari "pemanfaatan secara bijak" itu? Di mana sesungguhnya letak dari "ke-bijaksanaan" itu? Pada dasarnya, itu berarti hidup dengan prinsip-prinsip atau hukum alam, dan tidak larut mengikuti budaya populer yang menyajikan kiat serba cepat dalam menangani berbagai perkara.
Ketika pertama kali melihat jarum kompas pada umur empat tahun, Einstein mengerti bahwa pasti ada "sesuatu di balik benda-benda, sesuatu yang jauh tersembunyi." Hal yang sama juga berlaku pada setiap bidang kehidupan ini. Prinsip-prinsip bersifat universal atau umum—artinya, mereka mengatasi budaya dan wilayah geografis. Prinsip-prinsip itu juga abadi—tidak pernah berubah—seperti prinsip keadilan, kebaikan hati, rasa hormat, kejujuran, integritas, pelayanan dan sumbangan. Berbagai budaya yang berbeda mungkin me-nerjemahkan prinsip-prinsip itu dalam praktik yang berbeda, dan sejalan dengan waktu bisa jadi juga mengaburkan prinsip-prinsip itu melalui pemanfaatan kebebasan yang tidak benar. Kendati demi-kian, prinsip-prinsip itu ada. Seperti hukum gravitasi, prinsip-prinsip itu juga terus berlaku.
Saya juga menemukan bahwa prinsip-prinsip itu tidak bisa diperdebatkan. Prinsip-prinsip itu jelas dari sananya. Misalnya, Anda tak mungkin bisa terus percaya, kalau yang Anda percaya itu tidak layak dipercaya. Coba renungkan; itu adalah hukum alam.
Saya pernah menjadi asisten instruktur pada suatu kelompok pecinta alam yang terdiri dari tiga puluhan orang. Setelah menjelajah sekitar dua puluh empat jam tanpa makan, minum, dan tidur, kami menuruni gunung dan harus menyeberangi sungai yang deras untuk mencapai seberang, untuk mendapatkan makanan dan minuman. Ada seutas tali yang diikatkan di pohon di tebing kali yang satu dan ujungnya diikatkan di pohon di seberang. Di seberang sana tersedia sarapan pagi kami. Saya menyediakan diri sebagai orang yang pertama menyeberang dengan tali itu. Merasa diri lebih kuat daripada kenyataannya, saya mulai meluncur dan bergaya di tengah tali, dan bukannya menggunakan sisa tenaga saya untuk segera mencapai seberang. Baru setelah merasa kekuatan saya semakin menipis, saya dengan segera berusaha mencapai seberang—tetapi sudah terlambat, kekuatan saya sudah benar-benar menguap. Saya memanfaatkan teknik yang saya ketahui, termasuk visualisasi dan kekuatan ke-hendak, tetapi tetap saja tidak berhasil. Akhirnya saya terjatuh ke dalam sungai yang berarus deras itu. Ketika saya mencapai pinggir kali, sekitar dua puluh lima meter ke arah hilir, dan terbaring di sana kelelahan, para siswa saya justru bersorak dan menertawakan diri saya. Itulah gambaran mengenai "kesombongan yang mendahului kejatuhan". Tubuh kita merupakan sistem alamiah. Dia diatur oleh hukum alam. Sikap mental positif seberapa pun tidak ada gunanya kalau otot saya sudah sampai ambang batas kekuatannya.
Saya suka terhadap cara C.S. Lewis bicara mengenai orang-orang yang bilang bahwa tak ada prinsip-prinsip yang bersifat universal:
Kapan pun Anda bertemu dengan orang yang bilang bahwa ia tidak percaya adanya Benar dan Salah yang sejati, Anda akan segera menemukan orang yang sama itu justru menegaskan kebalikannya. Mungkin ia mengingkari janjinya kepada Anda, tetapi bila Anda mencoba mengingkari janji Anda terhadapnya, ia akan sigap mengeluh, "Ini tidak adil". Suatu bangsa mungkin bilang bahwa perjanjian-perjanjian tidak ada gunanya, tetapi semenit kemudian, mereka mengingkari ucapan itu dengan mengatakan bahwa perjanjian yang hendak mereka ingkari itu tidak adil. Tetapi, kalau perjanjian itu benar-benar tidak penting, dan bila tidak ada Benar dan Salah yang sejati—dengan kata lain, bila tidak ada Hukum Alam—apa bedanya perjanjian yang adil dengan yang tidak adil? Bukankah dengan begitu mereka justru sedang menunjukkan belang mereka, bahwa apa pun yang mereka katakan, sebenarnya mereka mengetahui Hukum Alam, sebagaimana pihak-pihak lain?
Karena itu, rupanya kita harus percaya akan adanya Benar dan Salah yang sejati. Mungkin saja bahwa orang kadang-kadang ber-pandangan salah mengenainya, seperti sebagaimana mereka kadang-kadang salah berhitung di bidang matematika, tetapi Benar dan Salah itu bukan sekadar masalah rasa dan pendapat, tetapi bersifat objektif, seobjektif tabel perkalian. Kalau demikian, berikut adalah dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, bahwa manusia, di seluruh dunia, memiliki gagasan bahwa mereka harus bertindak dalam cara tertentu, dan tidak bisa benar-benar menghindar darinya. Kedua, bahwa mereka pada kenyataannya tidak bertindak dengan cara seperti itu. Dengan kata lain, mereka mengetahui Hukum Alam, tetapi mereka melanggarnya. Dua fakta itu merupakan landasan bagi pemikiran yang jernih mengenai diri kita sendiri dan jagad raya di mana kita hidup
Jumat, 25 Maret 2011
22.28 by UnknownNo comments
Tagged: the 8 habith
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!