Selama setengah abad saya terlibat dalam pokok pembicaraan ini dalam berbagai konteks yang berbeda di seluruh dunia. Bila Anda bertanya kepada saya, pokok bahasan apa, atau tema apa, atau gagasan apa yang kiranya memiliki dampak terbesar terhadap orang-orang—gagasan besar apa yang lebih bergaung begitu mendalam dalam jiwa daripada yang lain—bila Anda bertanya mengenai satu hal ideal yang paling praktis, paling relevan, paling tepat waktu, apa pun lingkungannya, saya akan dengan cepat menjawab, tanpa keraguan apa pun, dan dengan keyakinan mendalam dalam hati dan jiwa saya, bahwa kita bebas untuk memilih. Selain kehidupan itu sendiri, kemampuan untuk memilih adalah anugerah kita yang paling besar. Kemampuan dan kebebasan ini amat bertolak belakang dengan pola pikir victimism, suatu pola pikir yang menganggap diri sebagai korban, dan budaya mempersalahkan yang begitu kental dalam masyarakat kita.
Pada dasarnya, kita ini adalah hasil dari pilihan-pilihan kita, bukan alam (gen) atau pola pengasuhan (didikan, lingkungan). Tentu saja gen dan budaya sering amat berpengaruh, tetapi tidak menentukan.
Sejarah orang bebas tidak pernah ditulis secara kebetulan. Sejarah itu ditulis dengan pilihan—yaitu pilihan mereka sendiri.3
DWIGHT D. EISENHOWER
Hakikat menjadi manusia adalah mampu mengarahkan kehidupan Anda sendiri. Manusia bertindak, sedangkan hewan dan robot bereaksi. Manusia dapat membuat pilihan berdasarkan nilai-nilai. Kemampuan Anda untuk memilih arah kehidupan Anda memung-kinkan Anda untuk menemukan kembali diri Anda, untuk mengubah masa depan Anda, maupun untuk mempengaruhi ciptaan lainnya. Ini adalah anugerah yang memungkinkan semua anugerah yang lain untuk dimanfaatkan. Ini anugerah yang memungkinkan kita untuk mengangkat hidup kita ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.
Selama bertahun-tahun bicara dengan berbagai kelompok, berkali-kali ada orang yang mendatangi saya dan pada pokoknya bilang begini, "Tolong beri tahu saya lebih banyak lagi mengenai kemampuan dan kebebasan saya untuk memilih. Tolong kasih tahu saya lebih banyak lagi mengenai nilai diri dan potensi saya, sehingga saya tak perlu lagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain." Entah topik yang dibicarakannya menarik (atau membosankan), banyak juga yang berkomentar bahwa hal yang paling menggairahkan jiwa mereka adalah pemahaman bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih. Bagi mereka pemahaman itu begitu manisnya, begitu me-legakannya, sehingga mereka hampir tidak dapat menyelaminya dengan cukup lama dan dalam.
Kemampuan untuk memilih ini berarti bahwa kita bukan sekadar hasil dari masa lalu kita atau dari gen kita; kita bukan merupakan produk dari perlakuan orang terhadap diri kita. Tentu saja semuanya itu mempengaruhi kita, tetapi tidak menentukan diri kita. Kita menentukan diri kita sendiri melalui pilihan-pilihan kita. Nah, kalau kita telah membiarkan masa kini kita ditentukan oleh masa lampau, akankah kita membiarkan masa depan kita ditentukan juga oleh masa lampau kita?
Antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Di ruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan kita. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagiaan kita.
Secara intelektual saya telah belajar dari banyak sumber mengenai kebebasan untuk memilih tanggapan kita terhadap apa pun yang menimpa kita. Tetapi, pada hari itu, dalam keadaan serba membuka diri dan merenung, dalam lingkungan yang santai itu, gagasan mengenai ruang kosong antara apa pun yang menimpa kita dan tanggapan kita terhadapnya menyentak saya seperti keruntuhan berton-ton batu bata. Sejak saat itu saya memahami dan percaya bahwa besarnya ruang itu sebagian besar ditentukan oleh warisan genetik dan biologis kita, serta oleh cara kita dididik dan dibesarkan, berikut dengan keadaan kita sekarang.
Bila kita hidup dengan banyak orang yang telah dewasa dengan cinta tanpa syarat dan dalam lingkungan yang mendukung, ruang itu mungkin amat luas. Di lain pihak, karena berbagai pengaruh genetik dan lingkungan, ruang itu mungkin amat sempit. Tetapi, yang penting ialah bahwa ada ruang itu, dan dalam pemanfaatan ruang itulah terdapat kesempatan untuk memperluasnya. Beberapa orang yang punya ruang yang lebar, ketika menghadapi lingkungan yang tidak ramah, mungkin saja memilih untuk bersembunyi, dan dengan begitu mempersempit ruang itu. Orang lain yang barangkali punya ruang yang sempit mungkin saja berenang melawan arus genetik, sosial, dan budaya, dan menemukan kebebasannya justru semakin meningkat, pertumbuhannya semakin cepat, dan ke-bahagiannya lebih mendalam. Kelompok yang pertama tadi adalah orang-orang yang tidak membuka anugerah besar yang telah mereka terima sejak lahir. Mereka itu semakin hari semakin lebih ditentukan oleh kondisi mereka daripada oleh keputusan-keputusan mereka. Sementara itu kelompok kedua—mungkin dengan susah payah dan terus-menerus harus berupaya—adalah orang-orang yang membuka anugerah kebebasan untuk memilih, yang tak ternilai harganya itu. Ketika mereka membuka anugerah itu, mereka menemukan kekuatan yang membebaskan dan merebakkan hampir semua anugerah lain yang sudah mereka terima sejak lahir.
Berikut adalah kutipan dari seorang yang terkenal, R.D. Laing, yang menunjukkan bahwa kegagalan kita untuk mengetahui bahwa kita memiliki ruang tersebut akan menghancurkan kemampuan kita untuk berubah. Hanya manusia yang memiliki kesadaran diri. Baca, renungkan, dan baca ulang kutipan berikut:
Wilayah cakupan dari yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena kita tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang bisa kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!