Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, keempat bagian dari kodrat kita terdiri dari tubuh, pikiran, hati, dan jiwa. Bersesuaian dengan keempat bagian itu terdapat empat kemampuan atau kecerdasan, yang kita miliki: kecerdasan fisik atau tubuh (Physical Intelligence atau Physical Quotienct, PQ), kecerdasan mental (IQ), kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Keempat kecerdasan ini merupakan anugerah bawaan yang sudah kita terima sejak lahir.
Kecerdasan Mental (IQ)
Dulu, sebelum bentuk-bentuk kecerdasan lain mengemuka, kalau kita bicara mengenai kecerdasan biasanya kita berpikir tentang Kecerdasan Mental (yang secara teknis lebih dikenal dengan istilah Intelligence Quotient, atau IQ), yaitu kemampuan kita untuk meng-analisis, berpikir dan menentukan hubungan sebab-akibat, berpikir secara abstrak, menggunakan bahasa, memvisualisasikan sesuatu, dan memahami sesuatu. Baru kemudian disadari bahwa konsep seperti itu terlalu mempersempit pengertian kecerdasan tersebut.
Kecerdasan Fisik (PQ)
Kecerdasan Fisik (PQ) adalah sebentuk kecerdasan lain yang dimiliki oleh tubuh kita. Kita secara tak langsung menyadari hal ini, tetapi seringkali tidak memperhitungkannya. Coba renungkan saja apa yang bisa dilakukan oleh tubuh Anda tanpa upaya sadar dari pihak Anda. Tanpa Anda perintah, tubuh Anda menjalankan sistem per-nafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf, dan sistem-sistem vital yang lain. Tubuh kita terus-menerus memantau lingkungannya, menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak, dan melawan unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup. Saya kutipkan tulisan dari Doe Childre dan Bruce Cryer berikut:
Sungguh mencengangkan, tubuh manusia merupakan sistem yang luar biasa—terdiri dari sekitar 7 triliun sel yang memiliki koordinasi fisik dan kimiawi yang menakjubkan, yang diper-lukan bahkan untuk sekadar bisa membalik halaman buku, bersin, atau mengemudikan mobil. Bila Anda merenungkan betapa hanya sedikit darinya yang perlu Anda pikirkan, itu akan lebih menakjubkan lagi. Kapan terakhir kali Anda mengingatkan jantung Anda untuk berdetak, paru-paru Anda untuk mengembang dan mengempis lagi, atau organ-organ pencernaan Anda untuk mengeluarkan kelenjar-kelenjar yang persis dibutuhkan, dan persis pada saatnya? Proses-proses itu,dan masih miliaran proses yang lain berjalan di luar kesadaran kita dan berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada kecerdasan yang menjalankan semuanya itu, dan sebagian besar darinya berlangsung di luar kesadaran kita.
Para dokter adalah orang-orang pertama yang menyatakan bahwa tubuh kita menyembuhkan diri sendiri. Obat-obatan hanya mem-permudah proses penyembuhan dan menyingkirkan rintangannya, tetapi obat-obatan itu juga bisa menjadi rintangan kalau kerjanya berlawanan dengan kecerdasan tubuh itu sendiri.
Bagaimana tubuh kita menyeimbangkan dan mengharmoniskan berfungsinya otak, yang menjadi wahana pikiran kita, dengan ber-fungsinya jantung, yang secara simbolik menyatakan kecerdasan emosional kita? Tubuh kita merupakan seperangkat mesin cerdas yang mengalahkan bahkan komputer tercanggih sekali pun. Kemampuan kita untuk bertindak berdasarkan pikiran dan perasaan kita, dan untuk mewujudkan hal-hal yang kita inginkan, tak tertandingi oleh spesies lain di dunia ini.
Berbagai kajian laboratorium ilmiah yang benar-benar terpercaya menghasilkan bukti yang semakin banyak mengenai hubungan erat antara tubuh (fisik), pikiran, dan hati (perasaan).
Sebuah plakat di sebuah toko di North Carolina:
Otak bilang, 'Aku adalah organ tubuh yang paling cerdas."
Hati menyahut, "Siapa yang bilang begitu padamu?"
Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan Emosional (EQ) adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati, dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan emosi adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial,dan keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan meng-hormati perbedaan. Sebelum dasawarsa sembilan puluhan, ketika EQ menjadi topik pembicaraan yang hangat, kecerdasan emosi itu kadang-kadang digambarkan sebagai kemampuan otak kanan, se-bagaimana terbedakan dari kemampuan otak kiri. Otak kiri dianggap lebih analitis, tempat pemikiran linear, pusat bahasa, pemikiran berdasarkan sebab-akibat dan logika. Sementara itu, otak kanan dianggap lebih kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh. Kuncinya adalah menghormati dua belahan otak itu, dan mempraktikkan pilihan untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemampuannya yang unik. Penggabungan pemikiran dan perasaan akan menciptakan keseimbangan, penilaian, dan kebijaksanaan yang lebih baik.
Intuisi akan memberi tahu pikiran (tentang) arah berikut yang harm dilihat.
DR. JONAS SALK, PENEMU VAKSIN POLIO
Ada banyak sekali riset yang menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu yang lebih akurat mengenai keberhasilan dalam komunikasi, dalam hubungan-hubungan dan dalam kepemimpinan, daripada kecerdasan mental. Seorang pengarang buku terkenal dan otoritas dalam hal EQ, Daniel Goleman menulis demikian:
Untuk mencapai kinerja luar biasa di semua jenis pekerjaan, di bidang apa pun, kompetensi emosional adalah dua kali lebih penting daripada kemampuan kognitif saja. Untuk meraih keberhasilan yang tinggi, dalam posisi kepemimpinan, kompetensi emosional jauh lebih mendukung dan menguntungkan... Mengingat bahwa kompetensi emosional merupakan dua pertiga atau lebih dari unsur-unsur yang menentukan kinerja prima, banyak data menyatakan bahwa menemukan orang yang memiliki kemampuan ini, atau mengupayakan agar kemampuan ini berkembang pada diri para karyawan, akan amat meningkatkan kinerja organisasi dan meningkatkan omsetnya. Seberapa banyak? Dalam tugas sederhana seperti operator mesin atau pegawai administrasi, satu persen orang-orang puncaknya yang memiliki kompetensi emosional adalah tiga kali lebih produktif (menurut nilainya). Untuk pekerjaan-pekerjaan yang tingkat kom-pleksitasnya sedang, seperti petugas penjualan, tukang mesin, satu orang dengan kompetensi emosional yang tinggi adalah dua belas kali lebih produktif (menurut nilainya)
Teori mengenai kecerdasan emosional menggoncangkan orang-orang yang mendasarkan strategi keberhasilan mereka hanya pada kecerdasan mental. Misalnya, andaikan saja skala tertinggi bagi IQ dan EQ masing-masing adalah sepuluh; seseorang bisa saja IQ-nya sepuluh, tetapi EQ-nya hanya dua, dan tidak tahu bagaimana ber-hubungan dengan orang lain. Orang itu mungkin menutupi kekurangannya dengan bersandar pada kemampuan inteleknya, dan mengandalkan posisi formalnya. Tetapi, dengan berbuat begitu mereka seringkali justru memperparah kelemahan mereka, dan dalam interaksinya dengan orang lain, mereka juga memperparah kelemahan orang-orang lain itu. Kemudian mereka berusaha mencari-cari pembenaran intelektual terhadap perilaku mereka itu.
Meminjam kekuatan dari luar hanya akan memperbesar
kelemahan—dalam dirinya sendiri, dalam diri orang lain, dan
dalam hubungan dengan orang lain.
Pengembangan kecerdasan emosional yang lebih kuat merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh para orangtua dan pemimpin di setiap tingkat organisasi.
Kecerdasan keempat adalah Kecerdasan Spiritual (SQ). Sebagaimana EQ, SQ juga menjadi arus utama dalam kajian ilmiah maupun diskusi filosofis/psikologis. Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di antara kecerdasan yang lain, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.
Richard Wolman, penulis buku Thinking with Your Soul, mendefinisikan kata "spiritual" sebagai berikut: Dengan spiritual saya maksudkan kerinduan dan pencarian manusia yang abadi dan sudah ada sejak keberadaan manusia itu sendiri, untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih dapat diandalkan daripada ego kita sendiri—dengan kata lain, keterhu-bungan kita dengan jiwa kita, dengan sesama kita, dengan kancah sejarah dan alam, dengan hembusan jiwa yang satu adanya, dan dengan misteri kehidupan itu sendiri
Kecerdasan spiritual juga membantu kita mencerna dan me-mahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dilambangkan dengan kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara. Kunci untuk mempertahankan otoritas moral yang tinggi adalah terus-menerus mengikuti prinsip "utara yang sesungguhnya".
Renungkan kutipan oleh penulis buku SQ: Connecting with Our Spiritual Intelligence, Danah Zohar dan Ian Marshall, sebagai berikut:
Berbeda dengan IQ, yang bahkan komputer pun memilikinya, dan EQ, yang juga terdapat pada mamalia yang cukup maju, SQ benar-benar khas manusiawi dan paling mendasar dibandingkan dengan ketiga kecerdasan yang lain. Kecerdasan ini terkait dengan kebutuhan manusia akan makna, suatu perkara yang termasuk prioritas utama di benak orang.... SQ adalah sesuatu yang kita pakai untuk mengembangkan kemampuan dan kerinduan kita akan makna, visi, dan nilai. Kecerdasan ini memungkinkan kita untuk bermimpi dan berjuang. Dia mendasari hal-hal yang kita percayai, dan peran yang dimainkan oleh kepercayaan maupun nilai-nilai dalam tindakan yang kita ambil. Intinya, dialah yang membuat kita menjadi benar-benar manusiawi





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!