Senin, 28 Maret 2011

Karena empat dimensi kehidupan itu jelas tumpang tindih, kita tak akan bisa mengembangkan salah satu tanpa memengaruhi yang lain, entah langsung atau tidak langsung. Bila kita mengembangkan dan memanfaatkan keempat kecerdasan tersebut, dalam din kita akan muncul kepercayaan diri, keamanan, dan kekuatan batin, kemampuan untuk menjadi berani sekaligus penuh pertimbangan, dan otoritas moral personal. Dalam banyak cara, upaya kita untuk mengembangkan keempat kecerdasan tersebut akan amat memengaruhi kemampuan kita untuk memengaruhi orang lain dan mengilhami mereka untuk menemukan suara mereka.
Untuk membantu Anda dalam rangka mengembangkan keempat kecerdasan bawaan Anda sejak lahir itu lebih jauh lagi, saya telah menyiapkan tuntunan tindakan di bagian akhir buku ini. Di sana Anda akan menemukan cara-cara praktis yang didasarkan pada fakta-fakta ilmiah yang kokoh, untuk mengembangkan masing-masing kecerdasan Anda. Itu akan Anda temukan pada Lampiran 1: Mengembangkan Keempat Kecerdasan/Kemampuan—Sebuah Tuntunan Praktis. Kendati Anda mungkin akan menemukan beberapa di antaranya sebagai suatu hal sederhana yang sudah banyak diketahui berdasarkan akal sehat, perlu Anda ingat bahwa apa yang sudah banyak diketahui berdasarkan akal sehat itu ternyata belum tentu juga merupakan sesuatu yang sudah banyak dipraktikkan. Saya jamin, bila Anda memfokuskan upaya Anda pada bidang-bidang itu, hidup Anda akan amat kuat dan damai.

Di balik kehidupan yang luhur dan terhormat terdapat prinsip-prinsip yang telah membentuknya.14
GEORGE H. LORIMER

 

Saya juga telah menemukan bahwa dengan membuat empat pengandaian sederhana dalam hidup kita ini kita dapat segera mulai

menjalani kehidupan yang lebih seimbang, terpadu, dan perkasa. Pengandaian itu sederhana—masing-masing satu untuk setiap bagian dari kodrat kita—tetapi saya berani jamin bahwa bila Anda me-lakukannya dengan konsisten, Anda akan menemukan sumber mata air baru bagi kekuatan dan integritas Anda, yang sewaktu-waktu dapat Anda andalkan bila Anda memerlukannya.
1. Bagi tubuh kita—andaikan Anda telah mendapat serangan jantung; sekarang hiduplah sesuai dengan pengandaian itu.
2. Untuk pikiran kita—andaikan bahwa waktu kerja Anda tinggal dua tahun lagi; sekarang bersiap-siaplah sesuai dengan pengandaian itu.
3. Untuk hati kita—andaikan segala sesuatu yang Anda katakan mengenai orang lain, dapat mereka dengar; sekarang bicaralah sesuai dengan pengandaian itu.
4. Untuk jiwa kita—andaikan Anda dapat bertatap muka empat mata dengan Pencipta Anda setiap seperempat jam sekali; sekarang hiduplah sesuai dengan pengandaian tersebut.

Sabtu, 26 Maret 2011

Sudah ada banyak sekali kajian, pengamatan dan penelitian mengenai kecerdasan, khususnya selama dua puluh tahun terakhir. Ada banyak sekali buku dan literatur. Kata-kata yang berbeda sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sebenarnya sama. Bagian dari apa yang saya sebut sebagai kecerdasan spiritual mungkin disebut kecerdasan emosional oleh orang lain, dan sebaliknya. Saya mengakui ada kesulitan berkenaan dengan makna konsep-konsep yang dipakai. Sekali lagi, saya ingin mendorong Anda, para pembaca, untuk tidak terpaku pada konsep atau definisi yang dipakai, tetapi terus men-dalaminya untuk menemukan makna yang terdapat di balik segala perbedaan tersebut.

Pada saat-saat yang dahsyat penuh keindahan, emosi dapat meluluhkan orang yang paling sinis dan berkulit badak sekalipun. Endorfin (yaitu sejenis morfin yang diproduksi oleh tubuh kita sendiri) mengalir. Ketegangan terurai. Energi, baik yang ada dalam diri kita maupun di luar diri kita, mengalir dan saling terhubung. Pengalaman yang muncul dari situ bukan hanya lembut dan tenang, tetapi juga mengandung kekuatan dan kreativitas alam dan jagad raya. Mencipta dan bekerja secara sadar dengan momen-momen keterhubungan seperti itu berarti melatih apa yang bisa kita sebut sebagai otot spiritual dan kecerdasan spiritual kita, Apa yang saya maksud dengan spiritual? Tak lain dan tak bukan saya maksudkan keseluruhan realitas dan dimensi yang lebih besar, lebih kreatif lebih penuh dengan rasa cinta, lebih kuat, lebih visioner, lebih bijak, lebih misterius, daripada  ksistensi manusiawi sehari-hari yang bersifat materialistik. Tak ada teologi atau sistem kepercayaan yang berhubungan dengan makna spiritual yang saya maksud ini.
WILLIAM BLOOM

Buku Howard Gardner mengenai teori "kecerdasan jamak", yang berjudul Frames of Mind, merupakan pemaparan yang bagus sekali mengenai konsep kecerdasan itu. Di sana ia menjelaskan bahwa ada banyak kecerdasan yang berbeda-beda, tapi juga saling tumpang tindih. Saya juga belajar banyak dari karya Robert Cooper maupun Daniel Goleman mengenai kecerdasan emosional. Saya men-dengarkan pemaparan mereka dalam beberapa kesempatan yang berbeda, dan tahu bahwa pendekatan mereka didasari dengan riset, bersifat menyeluruh, dan mencakup beberapa unsur yang saya bicarakan di bawah tema kecerdasan spiritual.
Beberapa buku membedakan kecerdasan visual dari kecerdasan verbal, analitik, artistik, logis, kreatif, ekonomis, dan kecerdasan-kecerdasan lain. Saya menghargai sumbangan mereka, tetapi saya yakin juga bahwa Anda dapat menempatkan semua itu dalam empat bagian dari kodrat kita, yaitu tubuh, pikiran, hati dan jiwa—dengan kata lain, empat dimensi dari kehidupan kita.

Saya tak akan pernah melupakan sebuah pengalaman yang terjadi di Hawai dengan Young President's Organization. Grup kecil yang terdiri dari beberapa presiden direktur perusahaan itu berkumpul untuk makan pagi bersama dengan beberapa ahli terkemuka di bidang manajemen dan kepemimpinan, yang masing-masing telah menulis buku-buku terlaris, amat terkenal, dan banyak dikutip pendapatnya. Dalam forum itu masing-masing merasa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sehingga tak seorang pun merasa perlu mengutip orang lain, walaupun masing-masing saling menaruh rasa hormat. Dalam forum itu, seorang presiden direktur dengan rendah hati mengajukan pertanyaan: "Maaf, kawan-kawan, bukankah kalian sebenarnya mengatakan hal yang sama dengan konsep yang berbeda-beda itu?" Orang-orang itu ternyata membenarkannya. Masing-masing memang menggunakan istilah dan definisinya sendiri-sendiri, dan seringkali ada wawasan khas yang belum dilontarkan oleh yang lain, tetapi kalau kita teliti dari elemen yang paling mendasar, yang mereka ungkapkan itu sama. Yang mereka bicarakan lebih banyak menyangkut prinsip-prinsip yang mendasar daripada praktik.
Saya benar-benar harus bekerja keras untuk menghindari masalah semantik atau perbedaan hanya dalam pemilihan kata itu, dan ber-usaha melihat makna yang lebih mendalam. Tetapi saya yakin bahwa ada dimensi kecerdasan lain yang belum cukup didalami. Yang saya maksudkan adalah peran kecerdasan spiritual dalam membimbing dan mengarahkan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Dalam hal inilah, kecerdasan spiritual lebih unggul daripada kecerdasan yang lain.
Ketika sejarah dunia dan berbagai lembaga, masyarakat, ling-kungan, keluarga, serta individu, akhirnya ditulis, tema dominannya adalah sejauh mana orang hidup berdasarkan nuraninya yang bersifat ilahi, dan bukan berdasarkan sistem nilai yang dipaksakan oleh sistem sosialnya. Nurani tersebut adalah kebijaksanaan yang bersifat intuitif, yang potensinya dimiliki oleh setiap orang sejak dia dilahirkan, dan yang ter-maktub dalam prinsip atau hukum alam, yang diajarkan dalam semua agama besar dan falsafah kehidupan. Tema sentralnya bukan geopolitik, ekonomi, pemerintah, perang, budaya masyarakat, seni, pendidikan, atau lembaga-lembaga agama. Dimensi moral atau spiritual—yaitu sejauh mana orang atau institusi dengan jujur, setia pada prinsip-prinsip abadi mengenai benar dan salah—akan menjadi kekuatan tertinggi yang menentukan, yang merengkuh dan mendasari segala sesuatu.

Perkenankan saya membagikan pengalaman yang barangkali bisa membantu menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan kita yang benar-benar unggul. Saya benar-benar terkesan dengan karya almarhum Anwar Sadat, Presiden Mesir, dalam upayanya bersama Presiden AS, Jimmy Carter dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin, untuk menyukseskan Perjanjian Perdamaian Camp David, antara Israel dan Mesir.
Ketika sedang dipandu mengelilingi Camp David, dengan me-ngendarai mobil golf, Presiden Amerika Serikat menunjukkan kepada saya tempat persis di mana perjanjian itu ditandatangani. Itu merupakan pengalaman yang amat emosional bagi saya. Saya tahu, Anwar Sadat adalah orang yang mengerti adanya ruang antara rangsangan dan tanggapan. Dia mengembangkan ruang yang amat luas ketika dia masih muda dan meringkuk di sel 54 di penjara pusat Kairo. Coba rasakan pemahamannya yang amat mendalam, yang tercermin dari kata-katanya ini:

Orang yang tidak dapat mengubah jalinan pikirannya tidak akan pernah mampu mengubah realitas, dan karena itu juga tak akan pernah membuat kemajuan

Sebelum cara pandangnya terhadap Israel berubah, Sadat telah menjadi seorang presiden yang amat populer, seorang presiden yang mencurahkan segala pikiran dan tenaganya bagi kepentingan Arab. Dia mengelilingi Mesir untuk menyampaikan pidato politiknya. Dalam pidatonya dia menegaskan bahwa dirinya tak akan pernah berjabatan tangan dengan orang Israel, selama orang Israel masih menguasai sejengkal pun tanah Arab, sambil berteriak, "Tak pernah! Tak pernah! Tak akan pernah!" Pada saat itu, orang-orang yang berkerumun untuk mendengarkan pidatonya, menyahut, "Tak pernah! Tak pernah! Tak akan pernah!"
Kami mengundang istri Anwar Sadat, Madame Jehan Sadat, untuk menjadi pembicara di Simposium Internasional kami. Saya merasa terhormat bisa makan siang bersamanya. Saya tanya bagaimana rasanya hidup dengan Anwar Sadat, khususnya saat Anwar Sadat membuat prakarsa yang benar-benar berani untuk mengunjungi Knesset di Yerusalem, suatu langkah yang akhirnya bermuara pada penandatanganan Perjanjian Camp David.
Jehan Sadat mengatakan bahwa pada saat itu dia sendiri tak bisa memercayai perubahan yang terjadi dalam hati suaminya, mengingat segala hal yang pernah ia perbuat dan ia katakan. Kalau saya ceritakan dengan kata-kata saya, beginilah kira-kira tuturannya:
Di salah satu ruangan di istananya, Jehan Sadat berbincang empat mata dengan suaminya, dan menanyakan kepadanya, "Kalau tak salah kamu akan pergi ke Israel. Benarkah demikian?"
"Ya."
"Bagaimana mungkin, mengingat segala hal yang telah kamu perbuat dan kamu katakan selama ini?"
"Saya dulu salah. Ini adalah hal yang benar, yang harus ku-lakukan."
"Kamu akan kehilangan kepemimpinan dan dukungan dari dunia Arab."
"Mungkin saja, tetapi kukira itu tak akan terjadi."

"Posisimu sebagai presiden di negeri ini akan lepas." "Itu juga bisa terjadi."
"Kamu dapat kehilangan hidupmu." (Kita tahu, itulah yang terjadi. Sadat ditembak mati oleh seorang pembunuh.)
Dia menjawab, "Hidupku sudah ditentukan. Tak akan satu menit lebih panjang atau lebih pendek daripada yang telah ditentukan."
Jehan memeluknya dan mengatakan bahwa suaminya adalah orang yang paling besar yang pernah ia ketahui.
Lalu saya tanyakan kepadanya, apa yang terjadi setelah dia kembali dari Israel. Katanya, biasanya butuh waktu tiga puluh menit untuk menempuh jarak antara bandara dan istananya. Pada saat itu, jarak itu ditempuh selama tiga jam. Jalan-jalan dijejali oleh ratusan ribu orang, mengelu-elukan Anwar Sadat dan memberi dukungan atas apa yang baru saja dia lakukan. Orang-orang itu adalah orang-orang yang sama, yang seminggu sebelumnya mengelu-elukan Anwar Sadat, karena alasan yang persis sebaliknya. Sadat telah melakukan sesuatu yang benar, dan mereka mengetahui hal itu. Kecerdasan spiritual adalah anugerah yang lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan emosional. Mereka tahu bahwa Anda tidak dapat berpikir dan hidup dengan memencilkan diri dalam dunia yang saling tergantung ini.
Anwar Sadat telah mengebawahkan ego dan EQ-nya (yaitu ke-pekaan sosialnya, empati dan keahlian sosialnya) pada SQ-nya (nurani), dan hasilnya bergaung ke seluruh dunia. Kepemimpinan dari kecerdasan spiritualnya telah mengangkat kecerdasannya yang lain, dan dia menjadi orang yang memiliki otoritas moral yang besar sekali.
Jalan setapak menuju otoritas moral, kepenuhan pribadi, dan kemampuan untuk memberikan pengaruh yang baik ini tidak hanya menjadi milik para pemimpin besar dunia. Potensinya ada dalam setiap orang di antara kita.

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, keempat bagian dari kodrat kita terdiri dari tubuh, pikiran, hati, dan jiwa. Bersesuaian dengan keempat bagian itu terdapat empat kemampuan atau kecerdasan, yang kita miliki: kecerdasan fisik atau tubuh (Physical Intelligence atau Physical Quotienct, PQ), kecerdasan mental (IQ), kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Keempat kecerdasan ini merupakan anugerah bawaan yang sudah kita terima sejak lahir.

image

Kecerdasan Mental (IQ)

Dulu, sebelum bentuk-bentuk kecerdasan lain mengemuka, kalau kita bicara mengenai kecerdasan biasanya kita berpikir tentang Kecerdasan Mental (yang secara teknis lebih dikenal dengan istilah Intelligence Quotient, atau IQ), yaitu kemampuan kita untuk meng-analisis, berpikir dan menentukan hubungan sebab-akibat, berpikir secara abstrak, menggunakan bahasa, memvisualisasikan sesuatu, dan memahami sesuatu. Baru kemudian disadari bahwa konsep seperti itu terlalu mempersempit pengertian kecerdasan tersebut.

Kecerdasan Fisik (PQ)

Kecerdasan Fisik (PQ) adalah sebentuk kecerdasan lain yang dimiliki oleh tubuh kita. Kita secara tak langsung menyadari hal ini, tetapi seringkali tidak memperhitungkannya. Coba renungkan saja apa yang bisa dilakukan oleh tubuh Anda tanpa upaya sadar dari pihak Anda. Tanpa Anda perintah, tubuh Anda menjalankan sistem per-nafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf, dan sistem-sistem vital yang lain. Tubuh kita terus-menerus memantau lingkungannya, menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak, dan melawan unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup. Saya kutipkan tulisan dari Doe Childre dan Bruce Cryer berikut:
Sungguh mencengangkan, tubuh manusia merupakan sistem yang luar biasa—terdiri dari sekitar 7 triliun sel yang memiliki koordinasi fisik dan kimiawi yang menakjubkan, yang diper-lukan bahkan untuk sekadar bisa membalik halaman buku, bersin, atau mengemudikan mobil. Bila Anda merenungkan betapa hanya sedikit darinya yang perlu Anda pikirkan, itu akan lebih menakjubkan lagi. Kapan terakhir kali Anda mengingatkan jantung Anda untuk berdetak, paru-paru Anda untuk mengembang dan mengempis lagi, atau organ-organ pencernaan Anda untuk mengeluarkan kelenjar-kelenjar yang persis dibutuhkan, dan persis pada saatnya? Proses-proses itu,dan masih miliaran proses yang lain berjalan di luar kesadaran kita dan berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada kecerdasan yang menjalankan semuanya itu, dan sebagian besar darinya berlangsung di luar kesadaran kita.

Para dokter adalah orang-orang pertama yang menyatakan bahwa tubuh kita menyembuhkan diri sendiri. Obat-obatan hanya mem-permudah proses penyembuhan dan menyingkirkan rintangannya, tetapi obat-obatan itu juga bisa menjadi rintangan kalau kerjanya berlawanan dengan kecerdasan tubuh itu sendiri.
Bagaimana tubuh kita menyeimbangkan dan mengharmoniskan berfungsinya otak, yang menjadi wahana pikiran kita, dengan ber-fungsinya jantung, yang secara simbolik menyatakan kecerdasan emosional kita? Tubuh kita merupakan seperangkat mesin cerdas yang mengalahkan bahkan komputer tercanggih sekali pun. Kemampuan kita untuk bertindak berdasarkan pikiran dan perasaan kita, dan untuk mewujudkan hal-hal yang kita inginkan, tak tertandingi oleh spesies lain di dunia ini.
Berbagai kajian laboratorium ilmiah yang benar-benar terpercaya menghasilkan bukti yang semakin banyak mengenai hubungan erat antara tubuh (fisik), pikiran, dan hati (perasaan).

Sebuah plakat di sebuah toko di North Carolina:
Otak bilang, 'Aku adalah organ tubuh yang paling cerdas."
Hati menyahut, "Siapa yang bilang begitu padamu?"

Kecerdasan Emosional (EQ)

Kecerdasan Emosional (EQ) adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati, dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan emosi adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial,dan keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan meng-hormati perbedaan. Sebelum dasawarsa sembilan puluhan, ketika EQ menjadi topik pembicaraan yang hangat, kecerdasan emosi itu kadang-kadang digambarkan sebagai kemampuan otak kanan, se-bagaimana terbedakan dari kemampuan otak kiri. Otak kiri dianggap lebih analitis, tempat pemikiran linear, pusat bahasa, pemikiran berdasarkan sebab-akibat dan logika. Sementara itu, otak kanan dianggap lebih kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh. Kuncinya adalah menghormati dua belahan otak itu, dan mempraktikkan pilihan untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemampuannya yang unik. Penggabungan pemikiran dan perasaan akan menciptakan keseimbangan, penilaian, dan kebijaksanaan yang lebih baik.

Intuisi akan memberi tahu pikiran (tentang) arah berikut yang harm dilihat.
DR. JONAS SALK, PENEMU VAKSIN POLIO

Ada banyak sekali riset yang menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu yang lebih akurat mengenai keberhasilan dalam komunikasi, dalam hubungan-hubungan dan dalam kepemimpinan, daripada kecerdasan mental. Seorang pengarang buku terkenal dan otoritas dalam hal EQ, Daniel Goleman menulis demikian:
Untuk mencapai kinerja luar biasa di semua jenis pekerjaan, di bidang apa pun, kompetensi emosional adalah dua kali lebih penting daripada kemampuan kognitif saja. Untuk meraih keberhasilan yang tinggi, dalam posisi kepemimpinan, kompetensi emosional jauh lebih mendukung dan menguntungkan... Mengingat bahwa kompetensi emosional merupakan dua pertiga atau lebih dari unsur-unsur yang menentukan kinerja prima, banyak data menyatakan bahwa menemukan orang yang memiliki kemampuan ini, atau mengupayakan agar kemampuan ini berkembang pada diri para karyawan, akan amat meningkatkan kinerja organisasi dan meningkatkan omsetnya. Seberapa banyak? Dalam tugas sederhana seperti operator mesin atau pegawai administrasi, satu persen orang-orang puncaknya yang memiliki kompetensi emosional adalah tiga kali lebih produktif (menurut nilainya). Untuk pekerjaan-pekerjaan yang tingkat kom-pleksitasnya sedang, seperti petugas penjualan, tukang mesin, satu orang dengan kompetensi emosional yang tinggi adalah dua belas kali lebih produktif (menurut nilainya)

Teori mengenai kecerdasan emosional menggoncangkan orang-orang yang mendasarkan strategi keberhasilan mereka hanya pada kecerdasan mental. Misalnya, andaikan saja skala tertinggi bagi IQ dan EQ masing-masing adalah sepuluh; seseorang bisa saja IQ-nya sepuluh, tetapi EQ-nya hanya dua, dan tidak tahu bagaimana ber-hubungan dengan orang lain. Orang itu mungkin menutupi kekurangannya dengan bersandar pada kemampuan inteleknya, dan mengandalkan posisi formalnya. Tetapi, dengan berbuat begitu mereka seringkali justru memperparah kelemahan mereka, dan dalam interaksinya dengan orang lain, mereka juga memperparah kelemahan orang-orang lain itu. Kemudian mereka berusaha mencari-cari pembenaran intelektual terhadap perilaku mereka itu.

Meminjam kekuatan dari luar hanya akan memperbesar
kelemahan—dalam dirinya sendiri, dalam diri orang lain, dan
dalam hubungan dengan orang lain.

Pengembangan kecerdasan emosional yang lebih kuat merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh para orangtua dan pemimpin di setiap tingkat organisasi.

Kecerdasan keempat adalah Kecerdasan Spiritual (SQ). Sebagaimana EQ, SQ juga menjadi arus utama dalam kajian ilmiah maupun diskusi filosofis/psikologis. Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di antara kecerdasan yang lain, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.
Richard Wolman, penulis buku Thinking with Your Soul, mendefinisikan kata "spiritual" sebagai berikut: Dengan spiritual saya maksudkan kerinduan dan pencarian manusia yang abadi dan sudah ada sejak keberadaan manusia itu sendiri, untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih dapat diandalkan daripada ego kita sendiri—dengan kata lain, keterhu-bungan kita dengan jiwa kita, dengan sesama kita, dengan kancah sejarah dan alam, dengan hembusan jiwa yang satu adanya, dan dengan misteri kehidupan itu sendiri

Kecerdasan spiritual juga membantu kita mencerna dan me-mahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dilambangkan dengan kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara. Kunci untuk mempertahankan otoritas moral yang tinggi adalah terus-menerus mengikuti prinsip "utara yang sesungguhnya".

Renungkan kutipan oleh penulis buku SQ: Connecting with Our Spiritual Intelligence, Danah Zohar dan Ian Marshall, sebagai berikut:
Berbeda dengan IQ, yang bahkan komputer pun memilikinya, dan EQ, yang juga terdapat pada mamalia yang cukup maju, SQ benar-benar khas manusiawi dan paling mendasar dibandingkan dengan ketiga kecerdasan yang lain. Kecerdasan ini terkait dengan kebutuhan manusia akan makna, suatu perkara yang termasuk prioritas utama di benak orang.... SQ adalah sesuatu yang kita pakai untuk mengembangkan kemampuan dan kerinduan kita akan makna, visi, dan nilai. Kecerdasan ini memungkinkan kita untuk bermimpi dan berjuang. Dia mendasari hal-hal yang kita percayai, dan peran yang dimainkan oleh kepercayaan maupun nilai-nilai dalam tindakan yang kita ambil. Intinya, dialah yang membuat kita menjadi benar-benar manusiawi

Jumat, 25 Maret 2011

Otoritas alamiah adalah ranah atau medan berlakunya hukum alam. Anda tidak bisa mengabaikan hukum alam, dan Anda tidak punya pilihan kecuali bertindak berdasarkan hukum itu. Semua tindakan memiliki akibat. Suka atau tidak, ketika kita mengangkat satu ujung tongkat, kita juga mengangkat ujung yang lain. Bila Anda terjun dari bangunan bertingkat sepuluh, Anda tidak bisa mengubah keputusan Anda saat mencapai tingkat kelima. Gravitasilah yang mengontrolnya. Itulah ketentuan alam. Alam juga telah menentukan bahwa kita punya kebebasan dan kemampuan untuk memilih, dan oleh karena itu, manusia memiliki otoritas alamiah atau kewenangan untuk menguasai ciptaan yang lain. Spesies yang langka dan terancam bahaya hanya bisa bertahan hidup karena persetujuan dan kepedulian kita. Mereka tidak memiliki kebebasan dan kemampuan untuk memilih. Mereka tidak punya kesadaran diri. Mereka tidak bisa menemukan kembali {reinvent) diri mereka. Mereka berada di bawah kuasa manusia. Karena memiliki kesadaran diri, manusia memiliki kebebasan dan kemampuan untuk memilih dan menemukan dirinya sendiri. Ini adalah otoritas alamiah.
Apa itu otoritas moral? Otoritas moral adalah pemanfaatan kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih, berdasarkan suatu prinsip. Dengan kata lain, bila kita mengikuti prinsip-prinsip dalam hubungan kita dengan sesama kita, kita seakan sedang memasuki wilayah perizinan alam. Hukum alam (seperti gravitasi) dan prinsip-prinsip (seperti rasa hormat, kejujuran, kebaikan hati, integritas, pelayanan dan keadilan) mengendalikan akibat dari pilihan-pilihan kita. Sebagaimana Anda mendapatkan udara dan air yang tercemar kalau Anda terus-menerus memperkosa lingkungan hidup, begitu pula kepercayaan (lem dari berbagai hubungan) akan hancur bila Anda terus-menerus bersikap tidak baik dan tidak jujur kepada orang lain. Dengan pemanfaatan kebebasan dan kemampuan untuk memilih secara bijaksana, dan didasari dengan prinsip-prinsip yang baik, orang yang rendah hati akan memperoleh otoritas moral terhadap orang-orang, budaya, organisasi, maupun seluruh masyarakatnya.
Nilai adalah norma sosial, yang bersifat personal, emosional, subjektif, dan dapat diperdebatkan. Kita semua punya nilai-nilai. Bahkan kriminal pun punya nilai-nilai. Pertanyaan yang harus Anda ajukan terhadap diri sendiri adalah, apakab nilai-nilai Anda didasarkan atas prinsip? Bila Anda runut sampai ujungnya, Anda akan menemukan bahwa prinsip-prinsip itu adalah hukum alam, yang bersifat impersonal, faktual, objektif dan jelas dari sananya. Berbagai akibat atau konsekuensi ditentukan oleh prinsip; perilaku ditentukan oleh nilai; karena itu hargailah prinsip-prinsip itu!
Orang yang terobsesi dengan ketenaran, adalah contoh dari mereka yang nilai-nilainya mungkin tidak mengakar kuat pada prinsip. Popularitas membentuk pusat moral mereka. Dengan kata lain, keinginan untuk tenar dan tetap tenar menghalalkan segala cara. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya mereka itu, dan tidak tahu ke mana sebenarnya arah "utara" yang benar. Mereka tidak tahu prinsip mana yang harus diikuti, karena kehidupan mereka didasarkan pada nilai-nilai sosial. Mereka tercabik karena tegangan antara kesadarannya akan tuntutan sosial dan kesadaran diri mereka di satu pihak, dan hukum alam dan prinsip di pihak lain. Bila sedang berada dalam pesawat terbang, keadaan seperti itu disebut  vertigo. Dalam keadaan itu Anda kehilangan arah atau acuan ke darat (yang dalam hal ini berarti prinsip) sehingga Anda jadi benar-benar bingung dan tersesat. Banyak orang menjalani hidup mereka dengan semacam vertigo, atau kebingungan moral. Kita semua melihat orang-orang seperti itu. Anda menyaksikan mereka dalam kehidupan Anda dan dalam budaya populer. Mereka tidak mau bersusah-payah untuk benar-benar memusatkan dan mendasarkan nilai-nilai mereka pada prinsip-prinsip yang abadi.
Karena itu, tugas pokok kita adalah menentukan di mana "utara yang sesungguhnya" dan kemudian mengarahkan segalanya ke situ. Kalau tidak, Anda akan hidup dengan berbagai konsekuensi negatif yang pasti akan muncul. Sekali lagi, konsekuensi negatif itu tak terelakkan karena walau nilai mengendalikan tingkah laku, prinsiplah yang mengendalikan konsekuensi dari tingkah laku itu. Otoritas moral menuntut pengorbanan atas kepentingan egoistik berjangka pendek, dan keberanian untuk meletakkan nilai-nilai sosial di bawah prinsip-prinsip. Dan nurani kita adalah gudang dari prinsip-prinsip tersebut.
Alam mengajarkan kepada kita hukum pertanian yang berlaku di mana-mana, dan saya akan menyebutnya sebagai Hukum Panenan. Semua yang berjangka panjang dihasilkan dengan mengikuti urutan waktunya, mengikuti prinsip-prinsip tertentu, dan tumbuh dari dalam ke luar. Hal yang sama berlaku bagi kodrat manusia. Ada Hukum Panenan yang mengendalikan karakter dan keagungan manusia beserta seluruh hubungan yang memiliki ciri manusiawi. Dan hal ini amat bertentangan dengan kecenderungan yang berlaku dalam budaya kita saat ini, yaitu kecenderungan untuk mencari segala sesuatu yang serba mudah dan instan, kecenderungan untuk merasa menjadi korban, dan menyalahkan pihak lain.

Kita telah memperbicangkan pemanfaatan secara bijak terhadap ruang antara rangsangan dan tanggapan—dengan kata lain, kebebasan kita untuk memilih. Apa sesungguhnya arti dari "pemanfaatan secara bijak" itu? Di mana sesungguhnya letak dari "ke-bijaksanaan" itu? Pada dasarnya, itu berarti hidup dengan prinsip-prinsip atau hukum alam, dan tidak larut mengikuti budaya populer yang menyajikan kiat serba cepat dalam menangani berbagai perkara.
Ketika pertama kali melihat jarum kompas pada umur empat tahun, Einstein mengerti bahwa pasti ada "sesuatu di balik benda-benda, sesuatu yang jauh tersembunyi." Hal yang sama juga berlaku pada setiap bidang kehidupan ini. Prinsip-prinsip bersifat universal atau umum—artinya, mereka mengatasi budaya dan wilayah geografis. Prinsip-prinsip itu juga abadi—tidak pernah berubah—seperti prinsip keadilan, kebaikan hati, rasa hormat, kejujuran, integritas, pelayanan dan sumbangan. Berbagai budaya yang berbeda mungkin me-nerjemahkan prinsip-prinsip itu dalam praktik yang berbeda, dan sejalan dengan waktu bisa jadi juga mengaburkan prinsip-prinsip itu melalui pemanfaatan kebebasan yang tidak benar. Kendati demi-kian, prinsip-prinsip itu ada. Seperti hukum gravitasi, prinsip-prinsip itu juga terus berlaku.
Saya juga menemukan bahwa prinsip-prinsip itu tidak bisa diperdebatkan. Prinsip-prinsip itu jelas dari sananya. Misalnya, Anda tak mungkin bisa terus percaya, kalau yang Anda percaya itu tidak layak dipercaya. Coba renungkan; itu adalah hukum alam.
Saya pernah menjadi asisten instruktur pada suatu kelompok pecinta alam yang terdiri dari tiga puluhan orang. Setelah menjelajah sekitar dua puluh empat jam tanpa makan, minum, dan tidur, kami menuruni gunung dan harus menyeberangi sungai yang deras untuk mencapai seberang, untuk mendapatkan makanan dan minuman. Ada seutas tali yang diikatkan di pohon di tebing kali yang satu dan ujungnya diikatkan di pohon di seberang. Di seberang sana tersedia sarapan pagi kami. Saya menyediakan diri sebagai orang yang pertama menyeberang dengan tali itu. Merasa diri lebih kuat daripada kenyataannya, saya mulai meluncur dan bergaya di tengah tali, dan bukannya menggunakan sisa tenaga saya untuk segera mencapai seberang. Baru setelah merasa kekuatan saya semakin menipis, saya  dengan segera berusaha mencapai seberang—tetapi sudah terlambat, kekuatan saya sudah benar-benar menguap. Saya memanfaatkan teknik yang saya ketahui, termasuk visualisasi dan kekuatan ke-hendak, tetapi tetap saja tidak berhasil. Akhirnya saya terjatuh ke dalam sungai yang berarus deras itu. Ketika saya mencapai pinggir kali, sekitar dua puluh lima meter ke arah hilir, dan terbaring di sana kelelahan, para siswa saya justru bersorak dan menertawakan diri saya. Itulah gambaran mengenai "kesombongan yang mendahului kejatuhan". Tubuh kita merupakan sistem alamiah. Dia diatur oleh hukum alam. Sikap mental positif seberapa pun tidak ada gunanya kalau otot saya sudah sampai ambang batas kekuatannya.
Saya suka terhadap cara C.S. Lewis bicara mengenai orang-orang yang bilang bahwa tak ada prinsip-prinsip yang bersifat universal:
Kapan pun Anda bertemu dengan orang yang bilang bahwa ia tidak percaya adanya Benar dan Salah yang sejati, Anda akan segera menemukan orang yang sama itu justru menegaskan kebalikannya. Mungkin ia mengingkari janjinya kepada Anda, tetapi bila Anda mencoba mengingkari janji Anda terhadapnya, ia akan sigap mengeluh, "Ini tidak adil". Suatu bangsa mungkin bilang bahwa perjanjian-perjanjian tidak ada gunanya, tetapi semenit kemudian, mereka mengingkari ucapan itu dengan mengatakan bahwa perjanjian yang hendak mereka ingkari itu tidak adil. Tetapi, kalau perjanjian itu benar-benar tidak penting, dan bila tidak ada Benar dan Salah yang sejati—dengan kata lain, bila tidak ada Hukum Alam—apa bedanya perjanjian yang adil dengan yang tidak adil? Bukankah dengan begitu mereka justru sedang menunjukkan belang mereka, bahwa apa pun yang mereka katakan, sebenarnya mereka mengetahui Hukum Alam, sebagaimana pihak-pihak lain?
Karena itu, rupanya kita harus percaya akan adanya Benar dan Salah yang sejati. Mungkin saja bahwa orang kadang-kadang ber-pandangan salah mengenainya, seperti sebagaimana mereka kadang-kadang salah berhitung di bidang matematika, tetapi Benar dan Salah itu bukan sekadar masalah rasa dan pendapat, tetapi bersifat objektif, seobjektif tabel perkalian. Kalau demikian, berikut adalah dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, bahwa manusia, di seluruh dunia, memiliki gagasan bahwa mereka harus bertindak dalam cara tertentu, dan tidak bisa benar-benar menghindar darinya. Kedua, bahwa mereka pada kenyataannya tidak bertindak dengan cara seperti itu. Dengan kata lain, mereka mengetahui Hukum Alam, tetapi mereka melanggarnya. Dua fakta itu merupakan landasan bagi pemikiran yang jernih mengenai diri kita sendiri dan jagad raya di mana kita hidup

Senin, 14 Maret 2011

Selama setengah abad saya terlibat dalam pokok pembicaraan  ini dalam berbagai konteks yang berbeda di seluruh dunia. Bila Anda bertanya kepada saya, pokok bahasan apa, atau tema apa, atau gagasan apa yang kiranya memiliki dampak terbesar terhadap orang-orang—gagasan besar apa yang lebih bergaung begitu mendalam dalam jiwa daripada yang lain—bila Anda bertanya mengenai satu hal ideal yang paling praktis, paling relevan, paling tepat waktu, apa pun lingkungannya, saya akan dengan cepat menjawab, tanpa keraguan apa pun, dan dengan keyakinan mendalam dalam hati dan jiwa saya, bahwa kita bebas untuk memilih. Selain kehidupan itu sendiri, kemampuan untuk memilih adalah anugerah kita yang paling besar. Kemampuan dan kebebasan ini amat bertolak belakang dengan pola pikir victimism, suatu pola pikir yang menganggap diri sebagai korban, dan budaya mempersalahkan yang begitu kental dalam masyarakat kita.
Pada dasarnya, kita ini adalah hasil dari pilihan-pilihan kita, bukan alam (gen) atau pola pengasuhan (didikan, lingkungan). Tentu saja gen dan budaya sering amat berpengaruh, tetapi tidak menentukan.

Sejarah orang bebas tidak pernah ditulis secara kebetulan. Sejarah itu ditulis dengan pilihan—yaitu pilihan mereka sendiri.3
DWIGHT D. EISENHOWER

Hakikat menjadi manusia adalah mampu mengarahkan kehidupan Anda sendiri. Manusia bertindak, sedangkan hewan dan robot bereaksi. Manusia dapat membuat pilihan berdasarkan nilai-nilai. Kemampuan Anda untuk memilih arah kehidupan Anda memung-kinkan Anda untuk menemukan kembali diri Anda, untuk mengubah masa depan Anda, maupun untuk mempengaruhi ciptaan lainnya. Ini adalah anugerah yang memungkinkan semua anugerah yang lain untuk dimanfaatkan. Ini anugerah yang memungkinkan kita untuk mengangkat hidup kita ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.
Selama bertahun-tahun bicara dengan berbagai kelompok, berkali-kali ada orang yang mendatangi saya dan pada pokoknya bilang begini, "Tolong beri tahu saya lebih banyak lagi mengenai kemampuan dan kebebasan saya untuk memilih. Tolong kasih tahu saya lebih banyak lagi mengenai nilai diri dan potensi saya, sehingga saya tak perlu lagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain." Entah topik yang dibicarakannya menarik (atau membosankan), banyak juga yang berkomentar bahwa hal yang paling menggairahkan jiwa mereka adalah pemahaman bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih. Bagi mereka pemahaman itu begitu manisnya, begitu me-legakannya, sehingga mereka hampir tidak dapat menyelaminya dengan cukup lama dan dalam.
Kemampuan untuk memilih ini berarti bahwa kita bukan sekadar hasil dari masa lalu kita atau dari gen kita; kita bukan merupakan produk dari perlakuan orang terhadap diri kita. Tentu saja semuanya itu mempengaruhi kita, tetapi tidak menentukan diri kita. Kita menentukan diri kita sendiri melalui pilihan-pilihan kita. Nah, kalau kita telah membiarkan masa kini kita ditentukan oleh masa lampau, akankah kita membiarkan masa depan kita ditentukan juga oleh masa lampau kita?

Antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Di ruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan kita. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagiaan kita.

image

Secara intelektual saya telah belajar dari banyak sumber mengenai kebebasan untuk memilih tanggapan kita terhadap apa pun yang menimpa kita. Tetapi, pada hari itu, dalam keadaan serba membuka diri dan merenung, dalam lingkungan yang santai itu, gagasan mengenai ruang kosong antara apa pun yang menimpa kita dan tanggapan kita terhadapnya menyentak saya seperti keruntuhan berton-ton batu bata. Sejak saat itu saya memahami dan percaya bahwa besarnya ruang itu sebagian besar ditentukan oleh warisan genetik dan biologis kita, serta oleh cara kita dididik dan dibesarkan, berikut dengan keadaan kita sekarang.

Bila kita hidup dengan banyak orang yang telah dewasa dengan cinta tanpa syarat dan dalam lingkungan yang mendukung, ruang itu mungkin amat luas. Di lain pihak, karena berbagai pengaruh genetik dan lingkungan, ruang itu mungkin amat sempit. Tetapi, yang penting ialah bahwa ada ruang itu, dan dalam pemanfaatan ruang itulah terdapat kesempatan untuk memperluasnya. Beberapa orang yang punya ruang yang lebar, ketika menghadapi lingkungan yang tidak ramah, mungkin saja memilih untuk bersembunyi, dan dengan begitu mempersempit ruang itu. Orang lain yang barangkali punya ruang yang sempit mungkin saja berenang melawan arus genetik, sosial, dan budaya, dan menemukan kebebasannya justru semakin meningkat, pertumbuhannya semakin cepat, dan ke-bahagiannya lebih mendalam. Kelompok yang pertama tadi adalah orang-orang yang tidak membuka anugerah besar yang telah mereka terima sejak lahir. Mereka itu semakin hari semakin lebih ditentukan oleh kondisi mereka daripada oleh keputusan-keputusan mereka. Sementara itu kelompok kedua—mungkin dengan susah payah dan terus-menerus harus berupaya—adalah orang-orang yang membuka anugerah kebebasan untuk memilih, yang tak ternilai harganya itu. Ketika mereka membuka anugerah itu, mereka menemukan kekuatan yang membebaskan dan merebakkan hampir semua anugerah lain yang sudah mereka terima sejak lahir.
Berikut adalah kutipan dari seorang yang terkenal, R.D. Laing, yang menunjukkan bahwa kegagalan kita untuk mengetahui bahwa kita memiliki ruang tersebut akan menghancurkan kemampuan kita untuk berubah. Hanya manusia yang memiliki kesadaran diri. Baca, renungkan, dan baca ulang kutipan berikut:

Wilayah cakupan dari yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Dan karena kita tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui, hanya sedikit hal yang bisa kita lakukan terhadap perubahan; sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita.

Kamis, 10 Maret 2011

Ada begitu banyak anugerah, yang belum kamu buka sejak kelahiranmu Ada begitu banyak hadiah berharga, yang telah diberikan oleh Allah. Yang Mahakasih tidak jemunya mengulang 'Apa pun milik-Ku adalah juga milikmu." Ada begitu banyak anugerah, kekasihku, yang belum kamu buka sejak kelahiranmu.

HAFIZ

image

KEMAMPUAN untuk menemukan suara kita terdapat pada potensi yang dianugerahkan kepada kita sejak lahir. Walau masih dalam keadaan terpendam, tersembunyi dan belum berkembang, benih keagungan dan kehebatan itu sudah ditanam di dalam diri kita. Kita diberi "anugerah luar biasa yang kita miliki sejak lahir"—berbagai bakat, kemampuan, hak istimewa, kecerdasan, kesempatan—yang sebagian besar masih tetap rapi tertutup, kecuali kalau kita mau membukanya, melalui keputusan dan upaya kita sendiri. Karena anugerah ini, potensi dalam setiap orang begitu hebat, bahkan tidak terbatas. Kita bahkan mungkin sama sekali tidak bisa membayangkan sejauh mana kemampuan kita itu. Seorang bayi mungkin merupakan ciptaan yang paling tergantung pada orang lain di dunia ini, tapi hanya dalam beberapa tahun saja, dia sudah berkembang menjadi orang yang amat kuat, dengan kemampuan luar biasa. Semakin kita memanfaatkan dan memper-besar bakat-bakat kita saat ini, semakin banyak bakat diberikan kepada kita, dan semakin besar kemampuan kita.

Semua bayi dilahirkan cerdas;
9.999 dari setiap 10.000 bayi itu dengan begitu cepat, dan sembrono,
dijadikan tidak cerdas lagi oleh orang-orang dewasa
.
BUCKMINSTER FULLER

Mari kita kaji tiga anugerah kita yang paling penting (Gam-bar 4.2)
Pertama, kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih.
Kedua, hukum-hukum alam atau prinsip-prinsip, yang universal dan tidak pernah berubah.
Ketiga, empat kecerdasan/kemampuan kita—fisik/ekonomi, emosional/ sosial, mental dan spiritual. Keempat kecerdasan/kemampuan ini berkaitan langsung dengan keempat bagian dari kodrat manusiawi kita—yang dilambangkan dengan tubuh, hati, pikiran dan jiwa.

image

Marianne Williamson dengan indahnya menyatakan betapa kita sering kagum, bahkan takut, terhadap kemampuan yang kita miliki sejak lahir—yang biasanya, saya kira, karena perasaan tanggung jawab yang ditimbulkannya di dalam diri kita:
Ketakutan kita yang paling dalam bukanlah bahwa kita ini tidak mampu. Sebaliknya, ketakutan kita yang paling dalam adalah bahwa kita amat sangat berkuasa. Cahaya kita, dan bukan kegelapan kitalah yang menakutkan kita. Kita bertanya pada diri sendiri: Siapa aku ini, untuk menjadi begitu cerdas, tampan, berbakat, dan hebat? Lho, memangnya siapa kamu sehingga merasa tidak pantas untuk itu? Kamu adalah anak Allah. Perilakumu yang mengecil-kecilkan diri itu sama sekali tak ada gunanya bagi dunia ini. Sama sekali tidak bijak bila kamu mengerutkan dirimu hanya agar orang lain tidak merasa kecil dan tak aman berada di sekitarmu. Kita semua ini dimaksudkan untuk bersinar cemerlang, sebagaimana anak-anak memang begitu. Kita dilahirkan untuk menyatakan kemuliaan Al-lah yang berada di dalam diri kita; ya, bukan hanya ada di dalam diri beberapa orang di antara kita, tetapi dalam diri setiap orang di antara kita. Dan bila kita membiarkan cahaya kita bersinar cemer-lang, secara tidak sadar kita mengizinkan orang lain untuk me-lakukan hal yang sama. Ketika kita terbebas dari ketakutan kita, kehadiran kita secara otomatis membebaskan orang lain

Senin, 07 Maret 2011

Mengetahui tapi tidak melakukan sesungguhnya sama saja dengan tidak mengetahui. Belajar tapi tidak melakukan adalah tidak belajar. Dengan kata lain, memahami sesuatu, tetapi tidak menerapkannya sama saja dengan tidak memahaminya. Hanya dengan melakukan atau menerapkannya, pengetahuan dan pemahaman diinter-nalisasikan. Misalnya, Anda dapat mempelajari tenis sebagai sebuah cabang olahraga hanya dengan membaca buku-buku dan men-dengarkan ceramah, tetapi Anda tidak akan mengetahui olahraga itu sampai Anda benar-benar memainkannya. Mengetahui tapi tidak melakukan sama saja tidak mengetahui.

Pengetahuan diri paling baik dipelajari, bukan dengan merenung
atau meditasi, melainkan dengan tindakan. Berusaha keraslah
untuk melakukan tugas Anda dan Anda akan segera tahu orang
macam apa Anda.
JOHANN GOETHE

Hampir semua orang mengakui bahwa Anda belajar paling baik ketika Anda mengajarkannya kepada orang lain; dan pembelajaran itu diinternalisasikan dalam kehidupan Anda, bila Anda menjalaninya.
Ketika mengajar di universitas beberapa tahun yang lalu, saya menemui seorang dosen tamu, Dr. Walter Gong, dari San Jose, California. Dia mengajarkan mata kuliah "How to Improve Your Teaching" (Bagaimana Meningkatkan Pengajaran Anda) selama satu semester. Inti pokok dari programnya bisa dirumuskan dengan satu prinsip ini: Cara terbaik untuk membuat orang belajar adalah mengubahnya menjadi pengajar. Dengan kata lain, Anda akan mempelajari materi apa pun dengan cara yang terbaik, bila Anda mengajarkannya.
Saya segera mulai menerapkan prinsip itu dalam pekerjaan saya maupun di rumah kami. Ketika pertama kali mulai mengajar di universitas, kelas saya hanya dihadiri oleh lima belas sampai tiga puluh mahasiswa. Ketika saya mulai menerapkan prinsip Dr Gong tadi, beberapa kelas yang saya ajar jumlah pesertanya hampir mencapai seribu orang. Kendati demikian, prestasi para mahasiswa malah meningkat. Kenapa? Ketika Anda mengajar, Anda belajar dengan lebih baik. Setiap pelajar (mahasiswa) menjadi pengajar, dan setiap pengajar menjadi pelajar (mahasiswa).
Kini, paradigma yang umum adalah bahwa rasio atau per-bandingan antara pengajar dan pelajar (mahasiswa) amat kritis— semakin sedikit pelajar/mahasiswa semakin tinggi kualitas peng-ajarannya. Tetapi, bila Anda mengubah pelajar/mahasiswa Anda, Anda akan mendapatkan leverage atau pengungkit/pendongkrak, yaitu sesuatu yang meningkatkan kinerja atau prestasi Anda. Dengan gambaran sebuah pengungkit, dengan cara itu Anda ibaratnya memindahkan titik tumpu dari pengungkit tersebut.
Selain itu, ketika Anda mengajarkan atau membagikan apa yang Anda pelajari kepada orang lain, Anda secara tak langsung seakan-akan berjanji kepada orang-orang tadi bahwa Anda akan melakukan hal-hal yang Anda ajarkan. Secara alamiah Anda akan lebih ter-motivasi untuk menghidupi apa-apa yang Anda pelajari. Kesediaan Anda untuk berbagi itu juga akan menjadi dasar bagi pembelajaran, komitmen dan motivasi yang lebih dalam, yang membuat perubahan menjadi sesuatu yang sah, dan tergalang suatu tim pendukung. Anda juga akan menemukan bahwa dengan berbagi itu akan tercipta ikatan dengan orang lain—terutama dengan anak-anak Anda. Coba minta mereka secara berkala mengajar Anda hal-hal yang mereka pelajari di sekolah. Istri saya, Sandra, dan saya menemukan bahwa dengan melakukan hal sederhana ini tak diperlukan lagi motivasi dari luar agar mereka mau belajar. Orang-orang yang mengajarkan apa yang mereka pelajari, sejauh ini, adalah para pelajar/mahasiswa yang hebat.

sumber : the8thhabith

Begitu Anda telah menemukan suara Anda, pilihan untuk memperluas pengaruh Anda, dan meningkatkan sumbangan Anda, adalah pilihan untuk mengilhami orang lain agar mereka menemukan suara mereka. Dalam bahasa Inggrisnya, mengilhami adalah inspire, yang berasal dari bahasa Latin inspirare, yang berarti menghembuskan kehidupan pada sesuatu atau seseorang. Ketika kita menghargai, menghormati, dan menciptakan cara bagi sesama kita untuk memberi suara pada keempat bagian dari kodrat mereka—yaitu secara fisik, mental, emosional/sosial dan spiritual—kecerdasan manusiawi, kreativitas, gairah hidup, bakat, dan motivasi yang masih laten dalam diri manusia menjadi merebak ke luar dan berkembang. Organisasi-organisasi yang mencapai jumlah orang cukup banyak, yang bisa mengungkapkan suara merekalah yang akan mencapai terobosan ke tingkat produktivitas yang jauh lebih tinggi, inovasi dan kepemim-pinan di pasar maupun di masyarakat.
Karena sebagian besar pekerjaan di dunia ini dilakukan di dalam organisasi, fokus kita adalah prinsip-prinsip yang dapat Anda terapkan untuk secara positif mempengaruhi orang lain di dalam organisasi apa pun (bisnis, pendidikan, pemerintahan, militer, komunitas, bahkan keluarga).