Sudah ada banyak sekali kajian, pengamatan dan penelitian mengenai kecerdasan, khususnya selama dua puluh tahun terakhir. Ada banyak sekali buku dan literatur. Kata-kata yang berbeda sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sebenarnya sama. Bagian dari apa yang saya sebut sebagai kecerdasan spiritual mungkin disebut kecerdasan emosional oleh orang lain, dan sebaliknya. Saya mengakui ada kesulitan berkenaan dengan makna konsep-konsep yang dipakai. Sekali lagi, saya ingin mendorong Anda, para pembaca, untuk tidak terpaku pada konsep atau definisi yang dipakai, tetapi terus men-dalaminya untuk menemukan makna yang terdapat di balik segala perbedaan tersebut.
Pada saat-saat yang dahsyat penuh keindahan, emosi dapat meluluhkan orang yang paling sinis dan berkulit badak sekalipun. Endorfin (yaitu sejenis morfin yang diproduksi oleh tubuh kita sendiri) mengalir. Ketegangan terurai. Energi, baik yang ada dalam diri kita maupun di luar diri kita, mengalir dan saling terhubung. Pengalaman yang muncul dari situ bukan hanya lembut dan tenang, tetapi juga mengandung kekuatan dan kreativitas alam dan jagad raya. Mencipta dan bekerja secara sadar dengan momen-momen keterhubungan seperti itu berarti melatih apa yang bisa kita sebut sebagai otot spiritual dan kecerdasan spiritual kita, Apa yang saya maksud dengan spiritual? Tak lain dan tak bukan saya maksudkan keseluruhan realitas dan dimensi yang lebih besar, lebih kreatif lebih penuh dengan rasa cinta, lebih kuat, lebih visioner, lebih bijak, lebih misterius, daripada ksistensi manusiawi sehari-hari yang bersifat materialistik. Tak ada teologi atau sistem kepercayaan yang berhubungan dengan makna spiritual yang saya maksud ini.
WILLIAM BLOOM
Buku Howard Gardner mengenai teori "kecerdasan jamak", yang berjudul Frames of Mind, merupakan pemaparan yang bagus sekali mengenai konsep kecerdasan itu. Di sana ia menjelaskan bahwa ada banyak kecerdasan yang berbeda-beda, tapi juga saling tumpang tindih. Saya juga belajar banyak dari karya Robert Cooper maupun Daniel Goleman mengenai kecerdasan emosional. Saya men-dengarkan pemaparan mereka dalam beberapa kesempatan yang berbeda, dan tahu bahwa pendekatan mereka didasari dengan riset, bersifat menyeluruh, dan mencakup beberapa unsur yang saya bicarakan di bawah tema kecerdasan spiritual.
Beberapa buku membedakan kecerdasan visual dari kecerdasan verbal, analitik, artistik, logis, kreatif, ekonomis, dan kecerdasan-kecerdasan lain. Saya menghargai sumbangan mereka, tetapi saya yakin juga bahwa Anda dapat menempatkan semua itu dalam empat bagian dari kodrat kita, yaitu tubuh, pikiran, hati dan jiwa—dengan kata lain, empat dimensi dari kehidupan kita.
Saya tak akan pernah melupakan sebuah pengalaman yang terjadi di Hawai dengan Young President's Organization. Grup kecil yang terdiri dari beberapa presiden direktur perusahaan itu berkumpul untuk makan pagi bersama dengan beberapa ahli terkemuka di bidang manajemen dan kepemimpinan, yang masing-masing telah menulis buku-buku terlaris, amat terkenal, dan banyak dikutip pendapatnya. Dalam forum itu masing-masing merasa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sehingga tak seorang pun merasa perlu mengutip orang lain, walaupun masing-masing saling menaruh rasa hormat. Dalam forum itu, seorang presiden direktur dengan rendah hati mengajukan pertanyaan: "Maaf, kawan-kawan, bukankah kalian sebenarnya mengatakan hal yang sama dengan konsep yang berbeda-beda itu?" Orang-orang itu ternyata membenarkannya. Masing-masing memang menggunakan istilah dan definisinya sendiri-sendiri, dan seringkali ada wawasan khas yang belum dilontarkan oleh yang lain, tetapi kalau kita teliti dari elemen yang paling mendasar, yang mereka ungkapkan itu sama. Yang mereka bicarakan lebih banyak menyangkut prinsip-prinsip yang mendasar daripada praktik.
Saya benar-benar harus bekerja keras untuk menghindari masalah semantik atau perbedaan hanya dalam pemilihan kata itu, dan ber-usaha melihat makna yang lebih mendalam. Tetapi saya yakin bahwa ada dimensi kecerdasan lain yang belum cukup didalami. Yang saya maksudkan adalah peran kecerdasan spiritual dalam membimbing dan mengarahkan kecerdasan-kecerdasan lainnya. Dalam hal inilah, kecerdasan spiritual lebih unggul daripada kecerdasan yang lain.
Ketika sejarah dunia dan berbagai lembaga, masyarakat, ling-kungan, keluarga, serta individu, akhirnya ditulis, tema dominannya adalah sejauh mana orang hidup berdasarkan nuraninya yang bersifat ilahi, dan bukan berdasarkan sistem nilai yang dipaksakan oleh sistem sosialnya. Nurani tersebut adalah kebijaksanaan yang bersifat intuitif, yang potensinya dimiliki oleh setiap orang sejak dia dilahirkan, dan yang ter-maktub dalam prinsip atau hukum alam, yang diajarkan dalam semua agama besar dan falsafah kehidupan. Tema sentralnya bukan geopolitik, ekonomi, pemerintah, perang, budaya masyarakat, seni, pendidikan, atau lembaga-lembaga agama. Dimensi moral atau spiritual—yaitu sejauh mana orang atau institusi dengan jujur, setia pada prinsip-prinsip abadi mengenai benar dan salah—akan menjadi kekuatan tertinggi yang menentukan, yang merengkuh dan mendasari segala sesuatu.
Perkenankan saya membagikan pengalaman yang barangkali bisa membantu menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan kita yang benar-benar unggul. Saya benar-benar terkesan dengan karya almarhum Anwar Sadat, Presiden Mesir, dalam upayanya bersama Presiden AS, Jimmy Carter dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin, untuk menyukseskan Perjanjian Perdamaian Camp David, antara Israel dan Mesir.
Ketika sedang dipandu mengelilingi Camp David, dengan me-ngendarai mobil golf, Presiden Amerika Serikat menunjukkan kepada saya tempat persis di mana perjanjian itu ditandatangani. Itu merupakan pengalaman yang amat emosional bagi saya. Saya tahu, Anwar Sadat adalah orang yang mengerti adanya ruang antara rangsangan dan tanggapan. Dia mengembangkan ruang yang amat luas ketika dia masih muda dan meringkuk di sel 54 di penjara pusat Kairo. Coba rasakan pemahamannya yang amat mendalam, yang tercermin dari kata-katanya ini:
Orang yang tidak dapat mengubah jalinan pikirannya tidak akan pernah mampu mengubah realitas, dan karena itu juga tak akan pernah membuat kemajuan
Sebelum cara pandangnya terhadap Israel berubah, Sadat telah menjadi seorang presiden yang amat populer, seorang presiden yang mencurahkan segala pikiran dan tenaganya bagi kepentingan Arab. Dia mengelilingi Mesir untuk menyampaikan pidato politiknya. Dalam pidatonya dia menegaskan bahwa dirinya tak akan pernah berjabatan tangan dengan orang Israel, selama orang Israel masih menguasai sejengkal pun tanah Arab, sambil berteriak, "Tak pernah! Tak pernah! Tak akan pernah!" Pada saat itu, orang-orang yang berkerumun untuk mendengarkan pidatonya, menyahut, "Tak pernah! Tak pernah! Tak akan pernah!"
Kami mengundang istri Anwar Sadat, Madame Jehan Sadat, untuk menjadi pembicara di Simposium Internasional kami. Saya merasa terhormat bisa makan siang bersamanya. Saya tanya bagaimana rasanya hidup dengan Anwar Sadat, khususnya saat Anwar Sadat membuat prakarsa yang benar-benar berani untuk mengunjungi Knesset di Yerusalem, suatu langkah yang akhirnya bermuara pada penandatanganan Perjanjian Camp David.
Jehan Sadat mengatakan bahwa pada saat itu dia sendiri tak bisa memercayai perubahan yang terjadi dalam hati suaminya, mengingat segala hal yang pernah ia perbuat dan ia katakan. Kalau saya ceritakan dengan kata-kata saya, beginilah kira-kira tuturannya:
Di salah satu ruangan di istananya, Jehan Sadat berbincang empat mata dengan suaminya, dan menanyakan kepadanya, "Kalau tak salah kamu akan pergi ke Israel. Benarkah demikian?"
"Ya."
"Bagaimana mungkin, mengingat segala hal yang telah kamu perbuat dan kamu katakan selama ini?"
"Saya dulu salah. Ini adalah hal yang benar, yang harus ku-lakukan."
"Kamu akan kehilangan kepemimpinan dan dukungan dari dunia Arab."
"Mungkin saja, tetapi kukira itu tak akan terjadi."
"Posisimu sebagai presiden di negeri ini akan lepas." "Itu juga bisa terjadi."
"Kamu dapat kehilangan hidupmu." (Kita tahu, itulah yang terjadi. Sadat ditembak mati oleh seorang pembunuh.)
Dia menjawab, "Hidupku sudah ditentukan. Tak akan satu menit lebih panjang atau lebih pendek daripada yang telah ditentukan."
Jehan memeluknya dan mengatakan bahwa suaminya adalah orang yang paling besar yang pernah ia ketahui.
Lalu saya tanyakan kepadanya, apa yang terjadi setelah dia kembali dari Israel. Katanya, biasanya butuh waktu tiga puluh menit untuk menempuh jarak antara bandara dan istananya. Pada saat itu, jarak itu ditempuh selama tiga jam. Jalan-jalan dijejali oleh ratusan ribu orang, mengelu-elukan Anwar Sadat dan memberi dukungan atas apa yang baru saja dia lakukan. Orang-orang itu adalah orang-orang yang sama, yang seminggu sebelumnya mengelu-elukan Anwar Sadat, karena alasan yang persis sebaliknya. Sadat telah melakukan sesuatu yang benar, dan mereka mengetahui hal itu. Kecerdasan spiritual adalah anugerah yang lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan emosional. Mereka tahu bahwa Anda tidak dapat berpikir dan hidup dengan memencilkan diri dalam dunia yang saling tergantung ini.
Anwar Sadat telah mengebawahkan ego dan EQ-nya (yaitu ke-pekaan sosialnya, empati dan keahlian sosialnya) pada SQ-nya (nurani), dan hasilnya bergaung ke seluruh dunia. Kepemimpinan dari kecerdasan spiritualnya telah mengangkat kecerdasannya yang lain, dan dia menjadi orang yang memiliki otoritas moral yang besar sekali.
Jalan setapak menuju otoritas moral, kepenuhan pribadi, dan kemampuan untuk memberikan pengaruh yang baik ini tidak hanya menjadi milik para pemimpin besar dunia. Potensinya ada dalam setiap orang di antara kita.





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!