Kamis, 10 Maret 2011

Ada begitu banyak anugerah, yang belum kamu buka sejak kelahiranmu Ada begitu banyak hadiah berharga, yang telah diberikan oleh Allah. Yang Mahakasih tidak jemunya mengulang 'Apa pun milik-Ku adalah juga milikmu." Ada begitu banyak anugerah, kekasihku, yang belum kamu buka sejak kelahiranmu.

HAFIZ

image

KEMAMPUAN untuk menemukan suara kita terdapat pada potensi yang dianugerahkan kepada kita sejak lahir. Walau masih dalam keadaan terpendam, tersembunyi dan belum berkembang, benih keagungan dan kehebatan itu sudah ditanam di dalam diri kita. Kita diberi "anugerah luar biasa yang kita miliki sejak lahir"—berbagai bakat, kemampuan, hak istimewa, kecerdasan, kesempatan—yang sebagian besar masih tetap rapi tertutup, kecuali kalau kita mau membukanya, melalui keputusan dan upaya kita sendiri. Karena anugerah ini, potensi dalam setiap orang begitu hebat, bahkan tidak terbatas. Kita bahkan mungkin sama sekali tidak bisa membayangkan sejauh mana kemampuan kita itu. Seorang bayi mungkin merupakan ciptaan yang paling tergantung pada orang lain di dunia ini, tapi hanya dalam beberapa tahun saja, dia sudah berkembang menjadi orang yang amat kuat, dengan kemampuan luar biasa. Semakin kita memanfaatkan dan memper-besar bakat-bakat kita saat ini, semakin banyak bakat diberikan kepada kita, dan semakin besar kemampuan kita.

Semua bayi dilahirkan cerdas;
9.999 dari setiap 10.000 bayi itu dengan begitu cepat, dan sembrono,
dijadikan tidak cerdas lagi oleh orang-orang dewasa
.
BUCKMINSTER FULLER

Mari kita kaji tiga anugerah kita yang paling penting (Gam-bar 4.2)
Pertama, kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih.
Kedua, hukum-hukum alam atau prinsip-prinsip, yang universal dan tidak pernah berubah.
Ketiga, empat kecerdasan/kemampuan kita—fisik/ekonomi, emosional/ sosial, mental dan spiritual. Keempat kecerdasan/kemampuan ini berkaitan langsung dengan keempat bagian dari kodrat manusiawi kita—yang dilambangkan dengan tubuh, hati, pikiran dan jiwa.

image

Marianne Williamson dengan indahnya menyatakan betapa kita sering kagum, bahkan takut, terhadap kemampuan yang kita miliki sejak lahir—yang biasanya, saya kira, karena perasaan tanggung jawab yang ditimbulkannya di dalam diri kita:
Ketakutan kita yang paling dalam bukanlah bahwa kita ini tidak mampu. Sebaliknya, ketakutan kita yang paling dalam adalah bahwa kita amat sangat berkuasa. Cahaya kita, dan bukan kegelapan kitalah yang menakutkan kita. Kita bertanya pada diri sendiri: Siapa aku ini, untuk menjadi begitu cerdas, tampan, berbakat, dan hebat? Lho, memangnya siapa kamu sehingga merasa tidak pantas untuk itu? Kamu adalah anak Allah. Perilakumu yang mengecil-kecilkan diri itu sama sekali tak ada gunanya bagi dunia ini. Sama sekali tidak bijak bila kamu mengerutkan dirimu hanya agar orang lain tidak merasa kecil dan tak aman berada di sekitarmu. Kita semua ini dimaksudkan untuk bersinar cemerlang, sebagaimana anak-anak memang begitu. Kita dilahirkan untuk menyatakan kemuliaan Al-lah yang berada di dalam diri kita; ya, bukan hanya ada di dalam diri beberapa orang di antara kita, tetapi dalam diri setiap orang di antara kita. Dan bila kita membiarkan cahaya kita bersinar cemer-lang, secara tidak sadar kita mengizinkan orang lain untuk me-lakukan hal yang sama. Ketika kita terbebas dari ketakutan kita, kehadiran kita secara otomatis membebaskan orang lain

Tagged:

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Komentarnya Yach !!