“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya”
(Goethe)
Sering kita menganggap bahwa kehidupan kita merupakan pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Kebaikan sering kita lambangkan dengan cinta dan keburukan sering kita lambangkan dengan perselisihan. Cinta akan membuat dan mengikat yang ada menjadi sesuatu yang menyatu sedangkan perselisihan membuat segala sesuatu itu terpisah dari eksistensinya.
Dunia ini bagaikan sebuah kepingan uang logam yang memiliki dua sisi yang saling mengisi dan tidak bisa terpisahkan antara satu sama lain. Begitu juga dengan kehidupan. Kehidupan merupakan kombinasi dari berbagai unsur-unsur yang berbeda antara satu sama lain. Kehidupan bagaikan sebuah lukisan, lukisan yang indah tidak terbentuk hanya dari satu warna melainkan gabungan dari berbagai warna. Bagaimana mungkin kita dapat membentuk sebuah pohon ketika warna yang kita miliki hanyalah warna putih. Bagaimana mungkin kita dapat membuat kue ketika bahan yang kita miliki hanyalah tepung.
Segala sesuatu yang ada di bumi ini, pertama-tama hanyalah merupakan kumpulan mitos-mitos yang sering terkait dengan dewa-dewa. Mitologi ini sering pula dikaitkan dengan kejadian alam. Mitologi merupakan jalan yang ditempuh oleh seseorang untuk menjawab segala pertanyaan mengenai alam, tuhan dan manusia itu sendiri, mitologi terkadang sering dianggap sebagai karangan imajinasi seseorang untuk melukiskan dan menggambarkan sesuatu, tapi apakah jawaban yang diajukan oleh mitologi dapat diterima oleh rasio sehingga mampu terjelaskan secara ilmiah.
Sebenarnya dari manakah dunia ini berasal? Apakah segala sesuatu ini yang ada di dunia ini berasal dari ketiadaan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang pertama-tama dikemukakan oleh para Filosof. Filosof adalah orang yang peka terhadap segala yang ada, bahkan yang mungkin ada. Rasa keingintahuanlah yang membawa mereka berkelana dan mencoba menyingkap tabir kehidupan.
Salah satu sifat yang dimiliki oleh seorang manusia adalah rasa ketidakpuasan. ketidakpuasan ini yang terkadang mengantar manusia untuk selalu melakukan petualangan dan pengembaraan untuk mencapai tingkat kepuasaan. Kita akan menghargai kehidupan ketika kita mengalami kesusahan, kita akan mengetahui bahwa betapa indahnya kebahagiaan ketika kita pernah merasakan yang namanya kepedihan dan kesedihan. Kita akan menghargai apa yang kita miliki dan yang ada disekeliling kita ketika kita pernah merasakan kehilangan orang yang penting dan berharga dalam kehidupan kita.
Kebenaran yang diungkap oleh manusia merupakan kebenaran yang relative, sehingga kita semua adalah pencari kebenaran bukan penemu kebenaran. Karena sejatinya kebenaran yang mutlak hanyalah milik sang pencipta. Jadi janganlah berhenti untuk mencari kebenaran itu, ketika orang berhenti untuk mencari kebenaran dan berproses maka tidak akan ada lagi makna kehidupan yang bisa kita ambil dari kehidupan ini.
sumber ": sakty





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!