Tak ada sesuatu yang begitu kuat sebagaimana sebuah gagasan yang telah tiba saatnya.
VICTOR HUGO
HENRY DAVID THOREAU pernah menulis, "Daripada seribu kali memangkas ranting dan cabang pohon kejahatan, akan lebih efektif bila Anda sekali saja memenggal akarnya."1 Buku ini dimaksudkan untuk memenggal akar masalah besar yang kita hadapi.
Kita telah mulai dengan deritanya; kita telah meneliti masalah yang mendasarinya—yaitu masalah yang memiliki akar pribadi, dan yang melibatkan sebuah paradigma dan seperangkat tradisi yang sudah berurat berakar di tempat kerja. Kini, marilah kita menyiapkan konteks bagi pemecahan masalahnya, dan memberi pandangan umum mengenai bagaimana pemecahan itu akan semakin terjabarkan dalam halaman-halaman selanjutnya.
SAYA TELAH BEKERJA DENGAN BERBAGAI ORGANISASI
di seluruh dunia selama lebih dari empat puluh tahun dan telah mengkaji berbagai temuan orang-orang besar yang telah mempelajari berbagai organisasi. Kebanyakan dari perubahan budaya yang besar —yaitu perubahan-perubahan yang telah membentuk organisasi-organisasi hebat yang bisa mendukung pertumbuhan, kemakmuran, dan sumbangan jangka panjang bagi dunia ini—mulai dengan pilihan yang diambil oleh satu orang. Kadangkala satu orang itu adalah pemimpin formalnya—CEO atau ketuanya. Sangat sering hal itu mulai dengan orang lain—seorang profesional, seorang manajer, atau asisten entah siapa. Terlepas dari posisi mereka, orang-orang itu pertama-tama mengubah diri mereka sendiri dari dalam ke luar. Karakter, kompetensi, inisiatif, dan energi positif mereka —pendek kata, otoritas moral mereka—mengilhami dan mengangkat orang-orang di sekitar mereka. Mereka memiliki gambaran yang jelas mengenai identitas diri yang mengakar pada kesejatian diri mereka, menemukan kekuatan dan bakat mereka, dan memanfaatkannya untuk melayani kebutuhan, dan memberi hasil yang bagus. Orang-orang mengetahui hal itu. Mereka lalu diberi tanggung jawab yang semakin besar. Mereka memenuhi tanggung jawab itu dan sekali lagi membuahkan hasil. Akibatnya, semakin banyak orang yang mengetahui hal itu dan memberi pujian. Orang-orang puncak ingin mempelajari gagasan mereka—bagaimana mereka dapat me-nyelesaikan dan mencapai begitu banyak hal. Budaya di tempat kerja mereka lalu terfokus ke arah diri dan visi mereka.
Orang seperti itu tidak tersedot oleh segala kekuatan negatif, yang melemahkan semangat dan merendahkan martabat orang, yang ada di dalam organisasi mereka. Menariknya, organisasi di mana mereka itu berada sebenarnya juga tidak lebih baik daripada kebanyakan organisasi lain. Sampai tingkat tertentu, organisasi mereka itu semuanya juga kacau balau. Tetapi, mereka mengerti bahwa mereka tidak bisa menunggu sampai bos atau organisasi mereka berubah dulu. Mereka menjadi semacam pulau puncak prestasi di tengah lautan situasi yang serba memble. Dan hal itu menular.
Dari mana seseorang mendapat kekuatan begitu besar untuk berenang melawan arus, dan berdiri kokoh di tengah derasnya provokasi budaya yang bersifat negatif, sehingga dia bisa menga-lahkan kepentingan dirinya yang sempit, mengembangkan dan mempertahankan visi dan ketetapan hati seperti itu?
Mereka mengkaji segala anugerah dan kodrat alamiah mereka. Mereka memanfaatkannya untuk mengembangkan sebuah visi mengenai sesuatu yang hebat yang hendak mereka capai. Dengan kebijaksanaan mereka, mereka mengambil inisiatif dan me-ngembangkan pemahaman mengenai berbagai kebutuhan dan kesempatan di sekitar mereka. Mereka melayani kebutuhan-kebutuhan yang cocok dengan bakat unik mereka, sehingga mereka bisa benar-benar termotivasi dan bisa memberi sumbangan nyata. Dengan kata lain, mereka menemukan dan memanfaatkan suara mereka. Mereka melayani dan mengilhami orang lain. Mereka menerapkan PRINSIP yang menentukan pertumbuhan dan kesejahteraan dalam diri manusia DAN dalam organisasi—yaitu prinsip-prinsip yang bisa menarik segala hal yang terbaik dari seorang "pribadi utuh", dari tubuhnya, dari pikirannya, dari hatinya dan dari jiwanya. Sama pentingnya, mereka juga memilih untuk mempengaruhi dan mengilhami orang lain untuk menemukan suara mereka, melalui prinsip-prinsip itu pula.
Solusi dua bagian ini—yaitu Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka—adalah peta bagi setiap individu di SETIAP TINGKAT dalam organisasi untuk memaksimalkan pemenuhan diri dan pengaruh mereka, dan untuk menjadi kontributor yang tak tergantikan,* maupun mengilhami tim dan organisasi mereka yang lebih luas untuk melakukan hal yang sama. Sesuai dengan itulah, buku ini disusun dalam dua bagian utama.
1. Menemukan Suara Anda
2. Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka.
Berikut adalah pengantar singkat untuk kedua bagian tersebut.
TEMUKAN SUARA ANDA
Di hutan, terhampar di hadapanku dua cabang jalan.
Aku mengamhil jalan yang jarang dilalui orang.
Dan itulah yang membuat segala perbedaan.2
ROBERT FROST
Gambar 3.1 merupakan ilustrasi dua jalan kehidupan yang amat berbeda dan merupakan sketsa atau peta sederhana dari Kebiasaan ke-8: Menemukan Suara Anda dan Mengilhami Orang Lain untuk Menemukan Suara Mereka. Diagram dua jalan ini akan muncul di awal bab-bab berikut, sampai bab 14. Setiap versi haru dari diagram (yang semakin lama akan semakin lengkap) akan menggarishawahi fokus dari hah yang hersangkutan. Dengan cara ini Anda akan mengetahui di mana Anda telah berada, di mana kini Anda berada, dan ke mana Anda mengarah.
SETIAP ORANG MEMILIH SATU dari dua cabang jalan dalam hidupnya—tua atau muda, kaya atau miskin, pria atau wanita sama saja. Satu cabang adalah jalan yang lapang, dan banyak dilalui orang, yaitu jalan ke arah mediokritas, suatu keadaan serba tanggung, setengah-setengah, atau malah memble. Jalan satunya lagi menuju ke arah keagungan, kebesaran, atau kehebatan dan pemenuhan makna. Wilayah cakupan dari kemungkinan yang ada dalam setiap tujuan di ujung masing-masing jalan itu sama luasnya dengan perbedaan anugerah atau bakat alamiah dan kepribadian dalam keluarga manusia, tetapi perbedaan antara kedua tujuan tersebut seperti malam dan siang.
Jalan ke arah mediokritas mengekang potensi manusiawi. Jalan ke arah keagungan membebaskan dan mewujudkan potensi manusiawi. Jalan ke mediokritas adalah pendekatan kehidupan yang menggunakan prinsip-prinsip jalan pintas, serba cepat; sedangkan
gambar : 3.1
jalan ke keagungan adalah suatu proses pertumbuhan bertahap dari dalam ke luar. Para penjelajah jalan di bawah yang mengarah ke mediokritas akan hidup dengan menuruti keakuannya yang dibentuk oleh tradisi budaya, menuruti kecenderungan atau selera rendahnya, hidup dengan mentalitas kelangkaan, membanding-bandingkan, hidup dengan semangat persaingan dan merasa diri sebagai korban (victimism). Sementara itu, para penjelajah jalan di atas, yang mengarah ke keagungan, bangkit tegak di atas berbagai pengaruh budaya yang negatif, dan memilih untuk menjadi kekuatan kreatif bagi kehidupan. Satu kata bisa menyatakan jalan ke keagungan itu, yaitu SUARA (PANGGILAN JIWA). Mereka yang berada di jalan ini menemukan suara mereka, dan mengilhami orang lain untuk me-nemukan suara mereka. Orang lain tidak pernah melakukannya.
sumber : the8thhabith halaman 40 (indonesian version)





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!