Kamis, 13 Januari 2011

Berikut adalah kejadian nyata dari pribadi utuh dalam pekerjaan utuh. Kisah ini menggambarkan apa yang terjadi di dalam sebuah pekerjaan, yang sekalipun terhormat, secara alamiah biasa disebut kasar atau rendahan, tidak memakai keahlian, dan bayarannya rendah—yaitu pekerjaan petugas pembersih. Gagasannya adalah jika Anda bisa mendapatkan satu pribadi utuh di dalam pekerjaan utuh yang tugasnya antara lain mengosongkan tempat sampah, menyapu dan mengepel lantai, mengelap dinding dan perabotan, dll., Anda akan bisa mendapatkannya di pekerjaan apa pun.

Seorang instruktur pengembangan manajemen pernah melatih sekelompok penyelia tingkat pertama mengenai cara memperkaya pekerjaan sehingga bisa memotivasi karyawan dari dalam diri mereka sendiri. Salah seorang yang bertugas menyelia para petugas pembersih memberikan sanggahan yang cukup kuat terhadap teori ini. Teori itu baginya tampak terlalu idealistis dan tidak berkaitan dengan sebagian besar pekerjaan yang dilakukan oleh para petugas pembersih—paling tidak para petugas pembersih yang dia supervisi. Semua penyelia yang dilatih juga sepakat bahwa memang ada masalah dengan para petugas pembersih. Mereka setuju dengan penyelia tersebut bahwa sebagian besar dari para petugas pembersih tersebut tidak berpendidikan, sering berpindah pekerjaan, dan melakukan pekerjaan itu karena mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pada dasarnya keinginan mereka hanyalah untuk mengisi daftar hadir. Sebagian bahkan pecandu alkohol.
Karena instruktur ini mengetahui bahwa penyelia bagian perawatan ini memiliki keyakinan kuat bahwa teori motivasi dan pemberdayaan sama sekali tak berguna baginya dalam hubungannya dengan para petugas pembersih, dia membatalkan bahan diskusi yang telah dia siapkan dan mulai menangani masalah petugas pembersih secara langsung.
Dia menuliskan tiga kata di papan tulis: Merencanakan, Melakukan, dan Mengevaluasi—tiga unsur utama dari pengayaan pekerjaan. Dia lalu bertanya kepada penyelia bagian perawatan dan para penyelia yang lainnya untuk menyebutkan tugas-tugas perawatan dan aktivitas yang berkaitan dengan tiga kata tersebut. Sebagian aspek dari—"merencanakan" dari pekerjaan tersebut adalah: menetapkan jadwal untuk perawatan, memilih dan membeli pembersih dan pemoles, dan menentukan petugas mana yang bertugas pada bagian pabrik tertentu. Dalam diskusi tersebut, penyelia bagian perawatan mengatakan bahwa dia berencana untuk membeli beberapa mesin pemoles dan penggosok lantai. Semua aktivitas merencanakan tersebut dilakukan sendiri oleh penyelia bagian perawatan.

Yang masuk di dalam bagian "Melakukan" adalah aktivitas-aktivitas normal dari para petugas pembersih—mengepel, meng-gosok, memoles, dan membuang sampah serta kotoran. Bagian "Mengevaluasi" dari pekerjaan tersebut meliputi aktivitas-aktivitas seperti pemeriksaan rutin harian mengenai kebersihan lokasi oleh penyelia bagian perawatan, evaluasi efektivitas sabun, pembersih dan pemoles yang berbeda, mengevaluasi upaya-upaya percobaan, mengidentifikasi cara-cara perbaikan, dan memastikan bahwa jadwal pembersihan ditepati. Sebagai tambahan, penyelia bagian perawatan juga menghubungi para pemasok untuk menentukan jenis mesin-mesin baru yang bisa dia beli.
Saat berbagai aktivitas tersebut telah dituliskan dalam daftar, si instruktur bertanya, "Yang mana dari aktivitas-aktivitas ini yang bisa dilakukan oleh para petugas pembersih itu sendiri? Sebagai contoh, mengapa Anda, Bapak Penyelia, yang menentukan sabun apa yang perlu dibeli? Mengapa tidak membiarkan para petugas pembersih saja yang menentukannya? Bagaimana kalau tenaga pen-jual memberikan demonstrasi mesin baru di depan para petugas pembersih dan membiarkan mereka memutuskan mesin mana yang terbaik? Bagaimana dengan memberikan kesempatan bagi para petugas pembersih untuk mengidentifikasi bagian-bagian pekerjaan yang menarik untuk mereka lakukan?" (Dalam situasi sebenarnya, bahasanya tidak selugas ini, dan seluruh kelas yang terdiri dari para penyelia itu turut terlibat dalam diskusi mengenai apa saja bidang-bidang perencanaan dan evaluasi tambahan yang bisa diberikan kepada para petugas pembersih.)
Dalam jangka waktu lima bulan berikutnya, kasus para petugas pembersih ini dibahas, paling tidak secara singkat, dalam setiap sesi yang dibawakan oleh instruktur tersebut. Sementara itu, penyelia bagian perawatan semakin banyak melibatkan pikiran dan hati para petugas pembersih dengan secara bertahap memberikan tanggung jawab lebih besar kepada mereka dalam proses merencanakan, melakukan, dan mengevaluasi pekerjaan mereka. Mereka menguji

mesin-mesin baru dan membuat rekomendasi akhir mengenai pembelian. Mereka menguji coba berbagai pembersih untuk menentukan mana yang terbaik dalam pemakaian sehari-hari. Mereka mulai membahas jadwal pembersihan untuk menentukan seberapa banyak perhatian yang perlu diberikan bagi masing-masing bagian. Sebagai contoh, salah satu bagian yang sebelumnya tiap hari dipel sekarang dipel hanya jika diperlukan setelah diperiksa secara visual. Para petugas pembersih itu mengembangkan kriteria mereka sendiri untuk menentukan kebersihan lokasi dan mulai menerapkan tekanan rekan sekerja pada para petugas pembersih yang tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut.
Sedikit demi sedikit, para petugas pembersih tersebut mengambil alih ketiga tugas tersebut, sehingga pemikiran terbaik mereka bisa dimanfaatkan—tubuh, hati, pikiran, dan jiwa mereka. Efek langsung yang mengejutkan sebagian besar orang adalah kualitas meningkat, masalah perputaran tenaga kerja dan disiplin menurun jauh, norma-norma sosial terbentuk dengan inti inisiatif, kerja sama, ketekunan, dan kualitas. Kepuasan kerja pun meningkat secara signifikan. Secara singkat, mereka telah mengubah sekelompok petugas pembersih, karena penyelianya memberi kesempatan atau memberdayakan pribadi utuh di dalam pekerjaan utuh. Mereka memiliki otonomi yang terarah. Para petugas pembersih itu tidak lagi memerlukan penyeliaan atau pengelolaan karena mereka menyelia dan mengelola diri mereka sendiri sesuai dengan kriteria yang turut mereka susun.
Mungkin yang lebih penting lagi, para penyelia yang lain mulai berpikir mengenai bagaimana mereka bisa menerapkan prinsip-prinsip yang sama di dalam bidang mereka sendiri, khususnya karena mereka bisa mulai melihat sendiri hasil pekerjaan penyelia bagian perawatan dengan para petugas pembersih tersebut.

dikutip dari buku the 8th Habith versi Indonesia

Tagged:

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Komentarnya Yach !!