Gairah adalah api, hasrat, dan kekuatan yang tumbuh dari keyakinan, serta dorongan yang mempertahankan disiplin untuk terus berjuang menggapai visi. Gairah muncul bila kebutuhan bertemu dengan bakat unik kita. Gairah iru muncul kalau kita menemukan dan memanfaatkan suara kita untuk menggapai tujuan yang luhur atau besar. Kalau kita tidak memiliki gairah seperti itu, kekosongannya akan diisi dengan perasaan tidak aman, dan omong kosong dari ribuan suara yang yang mewujudkan cermin sosial. Dalam lingkungan pergaulan dan organisasi, gairah juga mencakup welas asih {compassion) buruk, dan dorongan untuk menggapai makna dan memberi sumbangan nyata. Nurani adalah kekuatan yang mengarahkan kita dalam menggapai visi, mendayagunakan disiplin dan gairah hidup. Nurani amat bertentangan dengan kehidupan yang didominasi oleh ego atau keakuan kita.
Apa pun yang memperlemah daya nalar Anda, juga mengurangi kelembutan dan kepekaan nurani Anda, menggelapkan pemahaman Anda akan Tuhan, dan mengendurkan kegandrungan Anda terhadap hal-hal rohani; apa pun yang membuat tubuh atau jasmani Anda semakin berkuasa terhadap pikiran Anda adalah dosa bagi Anda, betapapun hal itu tampaknya tak berbahaya.2
SUSANA WESLEY (IBU JOHN WESLEY)
Empat kata ini—visi, disiplin, gairah, dan nurani—membentuk banyak sekali karakteristik yang biasa kita pakai untuk menggam-barkan ciri-ciri orang yang amat berpengaruh, entah orang itu ter-kenal atau tidak.
Pada umumnya, perbedaan dalam kata-kata yang kita pakai untuk menggambarkan ciri-ciri orang yang kita kagumi—entah itu di rumah, di lingkungan masyarakat, dalam bisnis maupun dalam pemerintahan—hanya merupakan masalah istilah. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 5.3, banyak ciri-ciri seperti itu yang tertera pada bagian gunung es di bawah permukaan air, yang masing-masing diberi label visi, disiplin, gairah, dan nurani.
Para pemimpin yang terbaik beroperasi dalam empat dimensi: visi,
realitas, etika, dan keberanian. Itu adalah empat kecerdasan, empat
bentuk pemahaman, bahasa untuk berkomunikasi yang dibutuhkan
untuk mencapai basil-basil yang bermakna dan bertahan lama.
Pemimpin visioner berpikir besar, berpikir secara baru, berpikir ke
depan, dan yang lebih penting lagi, bersentuhan dengan struktur
yang mendalam dari kesadaran dan potensi kreatif manusia.
Anda harus memegang kendali terhadap pola-pola yang menentukan
pikiran Anda: pandangan Anda terhadap dunia, keyakinan Anda
tentang apa yang pantas Anda peroleh, dan tentang apa yang
mungkin. Itulah zona perubahan fundamental, kekuatan, dan
energi—dan makna yang sebenar-benarnya dart keberanian.3
PETER KOESTENBAUM, PEMIKIR MANAJEMEN





0 komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa Komentarnya Yach !!